Selasa, 22 Januari 2019 – 13:06 WIB

Mengapa Anak-anak Muda China Menyebut diri Sendiri "Miskin" dan "Jelek"?

Selasa, 01 Januari 2019 – 12:00 WIB
Mengapa Anak-anak Muda China Menyebut diri Sendiri

Ini adalah cara yang tidak terlalu bagus untuk menggambarkan diri Anda sendiri: "miskin dan jelek". Tapi anak-anak muda malah menggunakan istilah " qiou" dengan bangga.

Temuan terbaru oleh generasi muda jejaring sosial di China ini malah mendapat gelar "unofficial word of the year" atau "kata tahun ini" secara tidak resmi di dunia maya.

Surat kabar milik pemerintah, Global Times melaporkan istilah yang menggabungkan kata "qiong" (miskin) dan "chou" (jelek) mulai menjadi tren awal bulan Desember lalu.

Istilah ini juga mengandung karakter "tu", atau kotoran.

Pengguna Weibo, jejaring sosial populer di China, Zhang Huyue, mendefinisikan qiou sebagai "sangat miskin sehingga Anda harus makan kotoran".

Shenshen Cai, seorang dosen senior Studi Cina di Universitas Teknologi Swinburne, mengatakan kepada ABC News bahwa popularitas kata itu dapat dilihat sebagai perpanjangan dari budaya "sang" - yang dikaitkan dengan kata "pemakaman" untuk menggambarkan keputusasaan banyak orang muda rasakan.

Tetapi ini juga semacam "kekalahan ironis", kata Dr Cai, karena kaum muda yang menentang keras harapan orang tua mereka, pemerintah dan masyarakat pada umumnya.

"Kredit saya tidak bisa melunasi barang-barang saya ... qiou," tulis Xiaominzhi_520 di Weibo.

"Sekali qiou, selalu qiou," gurau H_Hide.

Beberapa anak muda, seperti Xingliang Liu, mengambil pendekatan yang lebih pragmatis: "Meskipun miskin dan jelek, saya masih memutuskan untuk menjalani kehidupan yang kuat."

Ironisnya, generasi kelas menengah yang dibesarkan di bawah kebijakan satu anak China, yang dihapuskan pada akhir 2013, telah menikmati jumlah kekayaan yang sebelumnya tidak pernah terdengar oleh orang tua dan kakek nenek mereka.

Namun terlepas dari peluang, beberapa merasa kesuksesan tidak dapat dicapai.

"Penggabungan karakter baru "qiou" mengungkapkan jika anak-anak muda China sadar bahwa pencapaian materi dan kesuksesan sosial tidak sejalan dengan kerja keras," kata Dr Cai.

Di saat tingkat pengangguran resmi China mencapai 3,95 persen pada September, termasuk titik terendah dalam beberapa tahun, lowongan pekerjaan tetap sangat kompetitif dan banyak anak-anak muda berjuang dengan harga rumah yang tidak terjangkau dan biaya hidup yang meningkat, terutama di kota-kota besar.

Dr Cai mengatakan beberapa orang sekarang tak lagi menjalankan norma-norma yang dianggap dewasa, seperti menikah, memiliki anak, membeli rumah, karena mereka tidak dapat mendapatkan pekerjaan dengan bayaraan yang baik.

"Tidak peduli seberapa keras mereka belajar dan bekerja, banyak anak muda China masih tidak dapat membeli rumah mereka sendiri, membesarkan anak-anak mereka sendiri tanpa bantuan dari orang tua mereka, dan menjalani kehidupan yang nyaman," katanya.

Akhir bulan November dan Desember lalu, sebuah jajak pendapat tahunan dilakukan pada pengguna jejaring sosial untuk memilih kata-kata populer atau kata-kata baru yang merangkum tahun 2018 di Cina.

Sementara saat pengguna jejaring sosial menganggap kehidupan 12 bulan tahun lalu yang suram, pemerintah malah memilih kata yang jika diterjemahkan berarti kerja keras.

Delapan juta lulusan baru universitas memasuki pasar kerja China setiap tahunnya, menurut angka resmi.

ABC Indonesia merangkum dari laporan berbahasa Inggris yang bisa dibaca disini.

 
SHARES
Komentar