Mengapa Dampak Virus Corona Lebih Parah di Negara-negara Barat?

Mengapa Dampak Virus Corona Lebih Parah di Negara-negara Barat?
Amerika Serikat, Italia, Spanyol, Perancis, dan Britania Raya telah mengambil alih China dalam hal angka tertinggi kasus dan kematian akibat COVID-19 di dunia. (ABC News: GFX/Jarrod Fankhauser)

Negara-negara dengan satu partai, seperti Korea Utara dan Laos, masing-masing memang mengklaim memiliki nol dan 19 kasus yang dikonfirmasi, namun budaya penyensoran di kedua negara mempersulit untuk mengetahui dengan pasti seberapa baik kinerja kedua negara tersebut.

Indonesia, yang baru saja mengumumkan dua kasus pertama yang dikonfirmasi pada awal Maret, sekarang memiliki angka kematian yang paling tinggi terkait dengan virus corona di Asia selain China.

Lee percaya keberhasilan peredaman penyakit menular tidak terlalu bergantung pada jenis pemerintahan (demokrasi versus otoriter) atau budaya (Protestan versus Konfusian), tetapi lebih pada pengalaman, seperti pengalaman China saat tangani SARS.

"Di masa depan, saya percaya AS dan negara-negara Eropa akan jauh lebih siap dalam alokasi dana, sumber daya medis, tempat tidur rumah sakit, perlengkapan, fasilitas pengujian, dan lain-lain," katanya.

Sementara itu, Australia dan Selandia Baru dianggap sebagai negara Barat, meskipun lebih dekat ke Asia, dan telah dianggap mencapai keberhasilan awal dengan tingkat kematian yang relatif rendah.

Perdana Menteri Australia, Scott Morrison mengatakan walaupun jumlah kematian di negaranya "tidak pernah dianggap sebagai kabar baik", tapi angka kematian virus corona Australia lebih rendah daripada beberapa negara lain.

Artikel ini disadur dari laporan dalam bahasa Inggris yang bisa dibaca di sini.


Amerika Serikat, Italia, Spanyol, Perancis, dan Britania Raya telah mengambil alih posisi China dengan jumlah kasus dan angka kematian akibat virus corona tertinggi dunia


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Sumber ABC Indonesia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News