Mengapa Pemerintah Khawatir Muncul Gelombang Kedua Covid-19 di Indonesia?

Mengapa Pemerintah Khawatir Muncul Gelombang Kedua Covid-19 di Indonesia?
Doni Monardo. Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/aa

jpnn.com, JAKARTA - Pemerintah menilai sejauh ini sudah terjadi penurunan akibat virus Corona di Indonesia. Namun, ada hal yang harus diwaspadai pemerintah agar penyakit menular itu tidak mewabah kembali.

Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Doni Monardo mengatakan, salah satu gelombang yang membuat potensi kenaikan angka Covid-19 berasal dari pekerja migran Indonesia (PMI). Menurut dia, PMI dalam beberapa waktu ini banyak kembali ke Tanah Air.

"Ibu Menlu telah laporkan kepulangan sejumlah ABK dan PMI. ABK akan kembali 12.758 orang. Sedangkan PMI yang telah kembai 70.367 orang. Presiden tugaskan bahwa pilih titik debarkasi yang memiliki kemampuan melakukan isolasi dan observasi kepada PMI dan ABK yang kembali," kata Doni melalui telekonferensi, Senin (4/5).

Doni mengatakan presiden telah memerintahkan Gugus Tugas, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kesehatan, Polri dan TNI, untuk menyusun manajemen pemulangan PMI dan ABK. Apa lagi dalam dua pekan ke depan akan kembali 17 kapal pesiar yang akan berlabuh di Tanjung Priok, Jakarta dan Tanjung Benoa, Bali.

"Kami jelaskan bahwa laju kasus baru mengalami penurunan sampai 11 persen. Tetapi hal ini bukan berarti kita menjadi lengah. Karena kehadiran sejumlah PMI yang berpotensi menjadi bagian dari penularan," kata dia.

Selain itu, ada juga beberapa klaster yang harus diantisipasi agar penularan penyakit menular itu tidak mewabah kembali.

"Termasuk juga jemaah tablig, klaster Gowa, dan beberapa tempat industri yang telah menjadi epistenrum, dan pemudik yang lolos dari pemeriksaan aparat. Ini berpotensi meningkatnya kasus kembali," kata Doni. (tan/jpnn)

Pemerintah menilai sejauh ini sudah terjadi penurunan akibat virus Corona di Indonesia.Namun gelombang kedua kasus ini juga dikhawatirkan.


Redaktur & Reporter : Fathan Sinaga

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News