Mengejutkan! Prabowo - Sandi Unggul Atas Jokowi - Ma’ruf versi Survei Rumah Demokrasi

Mengejutkan! Prabowo - Sandi Unggul Atas Jokowi - Ma’ruf versi Survei Rumah Demokrasi
Direktur Rumah Demokrasi, Ramdansyah. Foto: Ist

Maksimalkan Strategi Gerilya

Dalam keterangan pers ini, Ramdansyah memperediksi, upaya Jokowi - Amin menggunakan strategi offensif dan “perang total” ala Jenderal Moldoko, akan dilakukan terus disisa waktu yang ada, guna menarik pemilih rasional yang akan fokus pada program, kinerja dan rekam jejak. Sebaliknya tim Prabowo - Sandi dipastikan akan memaksimalkan strategi grilya baik melalui jalur darat menyapa langsung masyarakat maupun melalui sosial media demi mempertahankan keunggulan elektabilitas yang sudah berselsih 5 persen.

“Modal sosial dalam bentuk kepercayaan publik yang sudah terbentuk dari kedua pasangan calon akan terus menarik undecided voters yang saat ini masih 14 persen, dengan strategi mendegradasi elektabilitas lawan,” tambahnya.

Sementara itu strategi playing victims juga berpotensi akan dimainkan untuk meng-upgrade (positive campaign) elektabilitas dari kelompoknya. Sementara itu upaya untuk mengikat pemilih sentimentil karena loyalitas etnis, kesukuan, religiusitas, dan agama masih akan terus berlangsung hingga saat pencoblosan 17 April 2019.

Strategi political endorsement dari masing-masing tokoh yang dimiliki kedua pasangan Capres - Cawapres akan turut memberikan efek electoral tentunya. Hingga saat dilakukan survei kedua kubu masih terus berupaya mendapatkan political endorsement melalui caranya masing-masing.

Dari segi kualitas demokrasi, berdasarkan temuan survei kata Ramdansyah, bsaat ini masih terjadi fenomena pertempuran yang bersifat komunal yang jauh berbeda dengan perilaku pemilih rasional, Crowd atau kerumunan yang trercermin dalam Cebong dan Kampret sebenarnya keduanya berusaha menarik undecided voters menjadi anggota kerumunan. Yaitu dengan cara menggerus modal sosial kandidat.

Tidak Puas Kinerja Pemerintah

Selain soal Pilpres, survei Rumah Demokrasi juga menanyakan soal kinerja Pemerintah. Menurut Ramdansyah, berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada 19/02/2019 – 01/03/2019, dimana saat responden diajukan pertanyaan dengan metode pertanyaan tertutup tentang harga barang pokok, “Apakah harga barang kebutuhan sehari-hari di era pemerintahan Jokowi murah?” sebagain besar responden tidak setuju harga-harga murah di era Pemerintahan Jokowi-JK. Dimana sebanyak 31,30 persen menyatakan setuju harga murah, 61,11 persen tidak setuju harga murah, dan 7,59 persen tidak tahu. Artinya mayoritas publik 61,11 persen merasa harga-harga mahal di masa Pemerintahan Jokowi-JK.

Model kampanye grilya di daerah basis seperti di wilayah Jabar dan Sumut bahkan ke daerah basis lawan seperti Jateng dan Jatim bahkan Bali cukup memberikan efek elektoral bagi pasangan Prabowo-Sandi.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News