Mengunjungi Petilasan Mbah Maridjan di Merapi

Mengunjungi Petilasan Mbah Maridjan di Merapi
Petilasan Mbah Maridjan di Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, DIY, Sabtu (18/12). Foto: M. Syukron Fitriansyah/JPNN.com

jpnn.com, YOGYAKARTA - Beberapa hari terakhir ini Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah kembali menunjukkan aktivitasnya. Ada satu nama yang sulit dilepaskan dari salah satu vulkan paling aktif di dunia itu, yakni Mbah Maridjan.

Laporan M Sukron Fitriansyah, Yogyakarta

MBAH Maridjan merupakan juru kunci Merapi pada kurun waktu 1982-2010. Rumahnya di Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, DIY, berada dalam radius 5 kilometer dari kawah Merapi.

Nama Mbah Maridjan menasional ketika Merapi meletus pada pertengahan Mei 2006. Kala itu, pemerintah mengimbau warga yang mendiami lereng Merapi segera mengungsi.

Namun, Mbah Maridjan memilih bertahan di rumahnya. Banyak kalangan menganggapnya bertindak berani dan melawan imbauan pemerintah pusat maupun Gubernur DIY Sri Sultan HB X. 

Sebelas tahun silam, tepatnya 26 Oktober 2010, Merapi kembali meletus dan memuntahkan awan panas. Saat letusan besar terjadi, Mbah Marijan tetap berada di rumahnya. 

Nahas tak bisa ditolak, maut mustahil dicegah. Awan panas yang juga dikenal dengan sebutan wedhus gembel dari erupsi Gunung Merapi menerjang Kinahrejo. 

Mbah Maridjan pun menjadi korban erupsi saat itu. Jenazahnya teridentifikasi sehari kemudian pada 27 Oktober 2010. 

Nama Mbah Maridjan tidak bisa lepas dari Gunung Merapi. Lokasi Mbah Maridjan wafat kini menjadi petilasan. Sejumlah foto juga menghiasi petilasan itu, termasuk potret Mbah Maridjan dalam ukuran cukup besar. 

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News