Menyerbu Warung

Oleh: Dahlan Iskan

Menyerbu Warung
Dahlan Iskan. Foto: Disway

Bukan.

Dia tidak bengong. Dia merasa tidak mampu melayani serbuan massa yang lapar itu. Dia sendirian. Sudah tua sekali. Gemuk. Giginya ompong. Pakaiannyi lusuh.

Melihat kegamangan itu balik kami yang bengong –bengongnya orang lapar.

"Bu," kata Ivo pada ibu tua itu. "Ibu duduk saja. Kami bisa melayani diri sendiri," tambahnyi.

Ivo dan Isna langsung ke dapur yang sempit. Mereka mencari di mana nasi. Di mana lodeh. Di mana rawon. Di mana piring dan sendok.

Cucu-cucu langsung membuka bungkus mie: bikin sendiri. Mereka hanya minta direbuskan air. Kompor pun dinyalakan. Sang ibu-tua hanya bisa melongo. Warungnyi telah dikudeta.

Saya sendiri menuju cobek itu: mengambil kacang goreng dari toples plastik. Cabe. Garam.

Petis. Dan sedikit gula merah. Saya juga ambil pisau. Saya iris-iris pisang kluthuk muda yang jadi kelengkapan bumbu rujak.

Ternyata tidak ada resto yang buka. Pun ketika perjalanan sudah sampai di Ketapang. Ivo, istri Azrul Ananda, lihat Google. Ada. Hanya 5 km dari Ketapang.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News