Menyinggahi Wae Rebo, Desa di NTT Peraih Penghargaan Tertinggi UNESCO (1)

Cuma Ada Tujuh Rumah di Seluruh Dunia

Menyinggahi Wae Rebo, Desa di NTT Peraih Penghargaan Tertinggi UNESCO (1)
CARI KEHANGATAN: Warga Wae Rebo berjemur di sinar matahari pagi di depan Mbaru Tembong (rumah utama Wae Rebo). Foto : Doan W/JAWA POS
Ya. Mbaru niang memang istimewa. Rumah-rumah kerucut itu tak bakal dijumpai di mana pun di seluruh kolong jagat ini. Mbaru niang hanya ada tujuh unit di Wae Rebo, sebuah desa mini di tengah-tengah gunung nun jauh di pelosok Pulau Flores, NTT.

Memang, masyarakat Manggarai punya mbaru gendang alias rumah gendang. Tapi, mbaru gendang sama sekali berbeda dengan mbaru niang. Mbaru gendang serupa tong atau drum yang diberi topi kerucut. Sedangkan mbaru niang ya serupa kerucut itu. Seperti tumpeng superbesar yang diletakkan di tanah.

Maka, kabar gembira dari UNESCO itu pun langsung menyebar bak tawon yang dipukul rumahnya. Kabar itu membanjiri internet. Milis-milis pemerhati budaya dan arsitektur berisi kabar kemenangan mbaru niang. SMS dan layanan pesan singkat lainnya pun mengabarkan berita sejenis: mbaru niang Wae Rebo mendapat penghargaan kelas dunia!

Tapi, secanggih apa pun internet, kabar itu tak langsung sampai di telinga warga Wae Rebo. "Saya diberi tahu orang beberapa hari lalu. Katanya, Wae Rebo juara I. Katanya, itu ada di internet. Walau kami tak tahu bentuk internet, kami ikut senang saja," ungkap Marten Forma, warga Wae Rebo yang dijumpai Jawa Pos di Kampung Denge, Desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese Barat, Manggarai.

Wae Rebo, desa mini di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), meraih penghargaan tertinggi dari United Nations Educational, Scientific,

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News