Merasakan Sulitnya Upaya Evakuasi Korban Merapi

Salah Sepatu, Tim Penyelamat Jadi Diselamatkan

Merasakan Sulitnya Upaya Evakuasi Korban Merapi
Merasakan Sulitnya Upaya Evakuasi Korban Merapi
Berapa jumlah persisnya korban tewas akibat Merapi hingga kemarin sulit diketahui. Salah satu penyebabnya adalah sulitnya upaya evakuasi. Wartawan Jawa Pos KARDONO SETYORAKHMADI ikut merasakan beratnya medan evakuasi tersebut.

===================================

SEJAK pukul 03.00 kami harus berkemas. Mengenakan celana panjang, goggle, masker, berkaus kaki, dan sepatu tracking. Itu adalah dress code wajib bila ikut bergabung dalam tim evakuasi.

Pagi hari memang merupakan waktu yang dianggap paling pas untuk mengevakuasi warga. Sebab, pukul 05.00?09.00 Merapi biasanya tampak secara visual. Itu memudahkan pemantauan. Secara psikologis, pagi hari juga memang pas. Siang terlalu panas dan biasanya arah angin tak menentu, sementara waktu malam terlalu berbahaya.

Soal dress code memang wajib, terutama untuk sepatu. "Kami tak akan memperbolehkan siapa pun yang mengenakan sandal atau sepatu kets biasa untuk ikut. Juga sepatu pantofel," ucap Broto Seno, salah satu koordinator tim SAR DIJ. Menurut dia, salah seorang anggotanya harus dievakuasi karena salah sepatu. Dia menginjak lapisan lahar yang masih panas. Sepatunya rusak dan kakinya melepuh. "Kalau sepatu katak, boleh?" tanya Jawa Pos kepada pria kocak tersebut. "Lho, malah ra popo. Iso wae (Lho, malah tidak apa-apa. Ada-ada saja, Red)," katanya.

Berapa jumlah persisnya korban tewas akibat Merapi hingga kemarin sulit diketahui. Salah satu penyebabnya adalah sulitnya upaya evakuasi. Wartawan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News