Merdeka

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Merdeka
Sejumlah warga membentangkan Merah Putih, tahun lalu. Foto: Ricardo/JPNN.com

Soekarno memipin rapat anggota BPUPKI di rumah Laksamana Maeda. Para pemuda ikut menyaksikan rapat itu. Disepakati bahwa proklamasi diumumkan esok hari pada 17 Agustus. Rapat berlangsung sampai larut malam. Saat itu sedang bulan Ramadan.

Mohammad Hatta bercerita bahwa ia sahur di rumah Laksamana Maeda. Karena tidak ada nasi, Hatta hanya makan roti dan minum susu.

Di rumah Laksamana Maeda draf proklamasi kemerdekaan disusun. Singkat dan padat. Soekarno menyusun draf dan Hatta mengedit dan membetulkan redaksi bahasa. Naskah proklamasi ditulis pada selembar kertas bergaris-garis biru mirip buku tulis anak SD.

Soekarno menulis dengan bolpoin pinjaman. Setelah naskah selesai, Sayuti Melik, pembantu Soekarno diminta mengetik.

Di rumah Maeda hanya ada mesin ketik dengan huruf kanji. Di tengah malam Sajuti dan B.M Diah, seorang wartawan, pinjam mesik ketik ke rumah konsul Jerman. Dengan cepat-cepat Sayuti mengetik. Setelah selasai ia lupa membawa naskah asli coretan Soekarno.

B.M Diah, wartawan muda yang terampil, melihat lembar kertas itu dan mengantonginya.

Rapat memutuskan proklamasi dilakukan pada 17 Agustus 1945 pukul 10.00. Semula akan dilakukan di lapangan depan Balai Kota.

Namun, Soekarno kemudian memutuskan memindahkan lokasi ke rumahnya di Jl Pegangsaan Timur 56 yang lebih aman tanpa perlu perizinan.

Sayuti Melik mengetik dengan mesin pinjaman dari rumah konsul Jerman. Setelah selesai, ia lupa..

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News