Minim, Konsumsi Baja Nasional

Minim, Konsumsi Baja Nasional
Minim, Konsumsi Baja Nasional
JAKARTA – Potensi pasar baja nasional masih sangat besar karena konsumsinya baru 30 kilogram perkapita.  Angka itu masih jauh dibawah konsumsi baja Tiongkok sebesar 300 kilogram perkapita. Di sisi lain sekitar 70 persen konsumsi baja nasional masih didominasi produk impor.

“Sebagai negara berkembang, daya saing industri baja Indonesia masih kalah dibanding industri baja di negara berkembang lain seperti India,” ujar Ketua Umum Asosiasi Industri Baja dan Besi Indonesia (Indonesian Iron & Steel Industry Association/IISIA), Fazwar Bujang, Selasa (9/9).

Menurut dia, industri baja nasional kurang memiliki landasan kuat untuk berkembang.  Ini bisa dipahami karena sejumlah persoalan yang masih mengganjal.

Disamping itu, konflik industri di sektor hilir maupun hulu masih terus muncul sehingga menimbulkan kurangnya harmonisasi antarindustri. Karena itu, sudah saatnya diperlukan kesatuan dari semua stake holder industri yang terkait baja, agar muncul kemandirian untuk pasar dalam negeri. “'Hampir semua industri baja, di luar KS (Krakatau Steel), Gunung Garuda maupun Ispat (anak perusahaan ArcelorMittal), kurang memiliki program terpadu,” lanjutnya.

JAKARTA – Potensi pasar baja nasional masih sangat besar karena konsumsinya baru 30 kilogram perkapita.  Angka itu masih jauh dibawah

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News