Kamis, 22 November 2018 – 17:16 WIB

Mus Mulyadi, The King of Keroncong yang Kini Alami Kebutaan Karena Diabetes

Senin, 08 Maret 2010 – 00:37 WIB
Mus Mulyadi, The King of Keroncong yang Kini Alami Kebutaan Karena Diabetes - JPNN.COM

Mus Mulyadi. Foto : Igna Ardiani

Pada 70-an, nama Mus Mulyadi dikenal sebagai rajanya musik keroncong (The King of Keroncong). Suara dan cengkoknya sangat khas. Kini dia berjuang melawan diabetes. Penyakit itu bahkan menyebabkan kedua matanya buta.


------------------------------------------
IGNA ARDIANI A. - JAKARTA
------------------------------------------

KETIKA ditemui di kediamannya di Taman Alfa Indah, Joglo, Jakarta Barat, Mus Mulyadi sedang bersantai. Saat itu dia mengenakan kemeja batik dan celana panjang hitam. Tubuhnya terlihat lebih kurus.

Tak ada lagi kumis menghiasi wajah, seperti yang menjadi ciri khasnya. Kondisi fisik Mus juga jauh berbeda. Saat menemui Jawa Pos di ruang tamu rumahnya, Mus dikawal seorang suster yang bertugas mengarahkan setiap langkahnya. "Saya sudah tidak bisa melihat sama sekali," cerita pria kelahiran Surabaya 14 Agustus 1945 tersebut. "Hanya cahaya yang bisa tampak, tapi samar-samar," ujarnya.

Pria bernama asli Mulyadi itu menceritakan, kedua matanya sama sekali tak bisa melihat sejak akhir 2009. Musibah itu merupakan komplikasi dari diabetes yang diidapnya sejak 1984. Menurut Mus, kejadiannya berlangsung tanpa diduga.

"Waktu itu saya sibuk-sibuknya mengerjakan album Keroncong Murni. Malam seusai rekaman, saya capek sekali. Begitu bangun esok pagi, mata saya tiba-tiba tidak bisa melihat," ujarnya. "Itu terjadi dua hari setelah Natal," lanjutnya.

Menurunnya kemampuan melihat yang drastis itu membuat Mus shock. Personel Favourite Band tersebut segera ke dokter untuk memeriksakan kondisinya. Beberapa hari kemudian, operasi untuk mata kiri pun dilakukan. Sayang, upaya tersebut tak banyak menolong. Saraf di mata kirinya terlampau lemah. Dokter pun tak bisa berbuat apa-apa.

Mulai saat itu, Mus yang kemampuan mata kanannya menurun jauh sejak 2004 tidak bisa melihat sama sekali. Kehilangan indra penglihatan menjadi cobaan berat bagi arek Suroboyo tersebut. Rasa sedih, marah, dan putus asa bercampur menjadi satu. "Rasanya mau mati saja. Hampir setiap hari saya menangis," ungkap Mus.

Kondisi penglihatannya sebenarnya mengalami penurunan sejak 2003. Ketika itu Mus merasa matanya buram. Sekadar melihat pesan singkat di ponsel saja, Mus mengaku kesulitan. Meski demikian, saat itu dia menganggap karena plus-nya bertambah. Alih-alih ke dokter, Mus memilih berganti kacamata. "Begitu terus. Setiap buram, ganti kacamata, buram lagi ganti lagi," ungkapnya.

Setahun kemudian, kondisi penglihatannya bukannya membaik. Mata kanannya tak bisa melihat dengan jelas. Ketika diperiksakan ke dokter di Australia, ketahuan kalau terjadi pendarahan di mata kanan akibat diabetes. Mus saat itu tak bisa langsung dioperasi karena terkendala biaya. Dia memutuskan menunda, sambil menabung.

Empat tahun kemudian, pada 2008, operasi baru dilakukan di Jakarta Eye Centre. Pada operasi pertama itu, dokter membersihkan pendarahan. Meski demikian, hasil yang didapat tidak begitu memuaskan. Penglihatannya saat itu sudah menurun 40 persen. Setelah operasi pertama tersebut, mata kanan Mus disuntik silikon sebulan sekali untuk membenahi kedudukan retina.

Tujuh bulan setelah operasi pertama, Mus menjalani operasi kedua untuk mengambil silikon sekaligus membersihkan sisa pendarahan. Tindakan itu pun tak juga menolong. Kemampuan melihatnya semakin menurun hingga 20 persen. Akhirnya kondisi itu menular pada mata kiri, dan kemampuan melihatnya menghilang sama sekali.

Diabetes dalam keluarga besar Mus Mulyadi bukan penyakit baru. Kedua orang tuanya, Muslimah dan Ali Sukarni, sama-sama mengidap diabetes. Penyakit gula itu lantas menurun kepada empat dari delapan anak pasangan tersebut. Itu termasuk Mus dan si bungsu yang juga musikus, Mus Mujiono.

Mus sendiri mengetahui dirinya mengidap penyakit gula ketika baru menikahi Helen Sparingga. Itu pun karena sang istri yang gencar menyarankannya agar berkonsultasi ke dokter. Ketika itu Mus memang sudah menunjukkan gejala diabetes, seperti sering lemas, kerap merasa haus, dan berat badannya menurun. Betul, saat diperiksa, kadar gula darahnya melonjak drastis, yaitu 460 mg/dl. "Berat badan saya turun banyak dari 70 kg menjadi 60 kg," katanya.

Soal bahaya diabetes, mantan pelatih band Dara Puspita ini sudah mendapat banyak peringatan. Dua saudaranya yang mengidap diabetes telah menghadap Yang Mahaesa karena komplikasi. Tidak hanya itu, sebelum akhirnya menjadi parah seperti sekarang ini, Mus sudah sering pingsan. Kekuatan giginya pun menurun, menjadi gampang sekali patah dan tanggal.

Bahkan, dulu ketika diundang tampil di Belanda, Mus sempat mengalami masalah gigi yang cukup parah. "Sewaktu sikat gigi di hotel, gigi depan rasanya ada yang aneh. Saya goyang-goyang, ternyata lepas. Wah, saya panik bukan main," cerita penyanyi yang tenar dengan hits Kota Solo, Dinda Bestari, Telomoyo, dan Jembatan Merah tersebut. Gigi yang gampang goyang itu memang berkaitan erat dengan diabetes yang diidapnya.

Peringatan-peringatan itu rupanya belum cukup menyadarkan musikus yang pernah nekat mengadu nasib ke Singapura pada 1967 itu. Segala pantangan diabaikan. Makanan apa pun dilahap. Terutama ketika menjalani tur dunia pada 1990?1992, Mus hampir tak ingat kalau dirinya mengidap penyakit gula. "Jamuan makan datang silih berganti. Belum lagi nongkrong bersama sesama musisi. Susah sekali mengatur pola makan," kenang penyanyi keroncong yang dikenal dengan cengkoknya yang khas tersebut.

Beruntung, Mus mendapat support yang besar dari istri dan anak. Mereka tak henti-hentinya membesarkan hati anak ketiga dari delapan bersaudara tersebut. Dukungan itu yang membangkitkan Mus dari keterpurukan dan mulai belajar menerima kenyataan. Hatinya pun menjadi lebih ikhlas. Itu yang membuatnya cepat beradaptasi dengan keadaan sekarang. Mus hanya butuh waktu seminggu untuk beradaptasi.

Mus pun belajar menghafalkan tata letak rumah. Ini tidak terlalu sulit karena dia sudah hafal dengan ruang-ruang di kediamannya yang terletak di kawasan Taman Alfa Indah itu. "Kadang-kadang, ya masih nyasar. Soalnya, Mbak Helen (Helen Sparinga, istri Mus) sering memindahkan barang-barang tanpa saya tahu," katanya kemudian tersenyum.

Untuk aktivitas di luar rumah, Mus tidak bisa sendiri. Dia dibantu seorang perawat untuk membimbingnya berjalan. "Kalau ada pentas bareng teman-teman band Favourite, mereka yang gantian nolongin saya," ujar Mus yang mengaku masih sering manggung bersama bandnya tersebut. Mus merasa sangat bersyukur mempunyai rekan-rekan yang sangat pengertian.

Mereka bergantian menjaga Mus saat pentas ke luar kota. Mereka juga yang mengarahkan Mus saat di panggung. "Karena tidak bisa melihat penonton, kadang-kadang arah saya menyanyi tidak menghadap ke penonton. Teman-teman ini yang membetulkan posisi saya," ujarnya.

Dengan kondisi yang sudah sangat terbatas, ayahanda Irene Patricia Melati dan Erick Rinandi Heriyadi itu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Untuk mengusir sepi, Mus mendengarkan musik serta mendengarkan firman. Sesekali, dia berolahraga untuk menjaga stamina. "Setiap hari saya berdoa. Saya masih yakin akan diberi kesembuhan," kata pria yang mengaku enggan berobat alternatif tersebut.

Meski dalam keterbatasan, kegiatan bermusik Mus tetap berjalan. Baru-baru ini dia kelar menggarap album Keroncong Murni. Album ini baginya sangat spesial karena dia menggunakan iringan keroncong asli. "Album-album sebelumnya kebanyakan menggunakan iringan band," katanya. Mus mengaku tak mendapat kesulitan besar meski album tersebut digarap ketika kondisi penglihatannya sudah melemah.

"Saya dibantu arranger untuk menghafalkan lirik lagu. Kalau saya salah menyanyi, dia yang bilangin, terus kita ulang lagi," kata Mus. Selain album Keroncong Murni, Mus mempunyai satu proyek lagi. Yaitu, menuntaskan album Pop Jawa yang penggarapannya terhenti karena dia sakit. "Ini yang akan saya tuntaskan," katanya. (kum)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar