Nembak Oke, Ngajari Nembak Mau

Libatkan Anak sebelum Promosi

Nembak Oke, Ngajari Nembak Mau
JENDERAL WANITA: Brigjen Sri Parmini saat ditemui di kantornya pekan lalu. Foto: Agung Putu Iskandar. Foto: Agung Putu Iskandar/Jawa Pos
Karena Sri lulusan jurusan keguruan, banyak teman semasa kuliah yang kaget saat mengetahui dirinya jadi jenderal. Sebab, umumnya, lulusan keguruan menjadi guru atau meniti jalur struktural pegawai negeri sipil (PNS). Saat menghadiri reuni kampus, dia diberondong banyak pertanyaan. "Lho, Sri, kamu berarti bisa nembak?" katanya, menirukan pertanyaan teman-temannya. "Nggak hanya bisa nembak, ngajari kamu nembak juga bisa kalau mau," jawab Sri sambil bercanda.

Saat kuliah di UNS, Sri memiliki "geng" beranggota tiga cewek. Geng itu terdiri atas tiga mahasiswa sekelas yang bernama depan Sri. Dua Sri lain menjadi guru dan kepala sekolah. Hanya Sri Parmini yang menyempal dari jalur sesama anggota geng. "Sekarang masih sering kontak-kontakan. Sri Warsiti jadi kepala sekolah, Sri Hartini jadi guru," ujar dia lantas tersenyum.

Selain itu, Sri Parmini harus memutar otak tiap kali dipindahtugaskan dan dipromosikan. Sebelum menjabat staf ahli tingkat II kawasan Eropa dan AS, dia bolak-balik dipindahtugaskan. Beberapa tahun setelah lulus dari Pusdik Kowad, dia menjadi guru militer. Kemudian, dia menjabat Kaur di Dinas Pengamanan Sandi Angkatan Darat (Dispamsanad). Pada 1996"1998, dia menjabat wakil kepala ajudan jenderal (Waka Ajen) Kodam Jaya.

Pada 2000-2004, dia kembali lagi ke Pusdik Kowad. Kali ini ibu Ratih Pujiati, 25, dan Arif Widiatmoko, 20, itu menjadi komandan Pusdik Kowad sebelum akhirnya ditarik ke Mabes TNI pada 2005. Karena prestasinya, Februari lalu dia diganjar pangkat bintang satu (brigadir jenderal) oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI George Toisutta.

PERWIRA pria yang berpangkat jenderal mungkin biasa. Jumlahnya sudah berjibun di korps militer maupun kepolisian. Tapi, wanita berpangkat jenderal,

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News