Jumat, 16 November 2018 – 01:26 WIB

Netizen China Protes Kemenangan Master Kung Fu Lawan Petinju Palsu

Jumat, 02 November 2018 – 20:00 WIB
Netizen China Protes Kemenangan Master Kung Fu Lawan Petinju Palsu - JPNN.COM

Seorang pria Afrika yang disebut-sebut sebagai "petinju pemberani" disingkirkan oleh seorang master Kung Fu China hanya dalam 43 detik di turnamen seni bela diri internasional di negara Asia Timur itu.

Poin kunci:

• Petinju Tanzania adalah pelajar internasional dan hanya pernah bertarung dalam 10 pertandingan
• Penyelenggara merekrut petinju asing untuk membuat turnamen itu terlihat "lebih internasional"
• Netizen China merasa malu dengan lelucon itu dan mempertanyakan apakah laga itu disengaja

Media milik Pemerintah China - yang dengan cepat mengumumkan kekalahan cepat petinju itu dan bagaimana hal itu menunjukkan kekuatan Kung Fu China -kemudian menemukan bahwa pria Afrika itu adalah seorang pelajar internasional yang dilaporkan dibayar 6.000 yuan (atau setara Rp 12 juta)) oleh sponsor acara.

Para sponsor mengklaim bahwa mereka gagal memverifikasi latar belakang pria Tanzania berusia 30 tahun itu, yang disediakan oleh agen makelarnya.

Bulan lalu "Kejuaraan Tinju 6 Negara" diselenggarakan oleh Provinsi Henan tengah dan diadakan di kota Dengfeng, yang dikenal sebagai ibukota Kung Fu China, di mana ratusan ribu orang telah mempelajari seni bela diri.

Dalam acara promosi, penyelenggara mengatakan sorotan pertandingan akan terjadi di laga tinju kelas 80 kilogram, antara siswa Shaolin berusia 51 tahun, Shi Yanzi, dan warga Tanzania, yang dikenal hanya dengan nama depannya, Gabriel.

"Pejuang pemberani ini memiliki rekor terbaru 15 pertandingan, dengan 14 kemenangan dan 1 kekalahan," kata penyiar yang memperkenalkan Gabriel.

Pertandingan berakhir hanya dalam 43 detik dengan kekalahan Gabriel dan beberapa media milik Pemerintah China menyebutnya sebagai "seorang prajurit pemberani tinju berkulit hitam" yang dikalahkan oleh seorang master Shaolin.

"Saya hanya ingin bertanding di ring tinju untuk belajar dan bertukar keterampilan dengannya dan melihat apakah saya bisa menggunakan lebih banyak teknik Kung Fu Shaolin," kata Shi kepada China News setelah pertandingan.

"Tapi saya tak berharap memenangkannya dalam satu putaran.

"Pukulan keras dan tendangan keras saya mungkin mendarat di tulang rusuknya."

Banyak hal yang palsu

Tetapi pemberitaan media tersebut tentang kemenangan yang luar biasa dari sang bhiksu hanya berlangsung singkat.

Seorang direktur pusat kebugaran tinju di Provinsi Liaoning di China bagian utara, yang hanya dikenal dengan nama belakang Qiu, mengakui Gabriel sebagai pelajar internasional dari universitas di kota Shenyang yang belajar di sekolah seni bela dirinya.

Qiu mengatakan kepada media milik Pemerintah China, Youth Daily, bahwa semua pertandingan Gabriel berakhir dengan kekalahannya atau bahkan abstensi, dan bahwa keterampilan tinjunya "lebih rendah daripada anggota amatir kami".

Ia mengatakan, banyak penyelenggara kompetisi di industri ini secara khusus merekrut petarung asing untuk membuat turnamen tampak "lebih internasional" dan bahwa ia sebelumnya telah mengatur tiga kompetisi untuk Gabriel.

"[Pembayarannya] lebih dari 1.000 yuan (atau setara Rp 2 juta) untuk setiap kompetisi, terlepas dari apakah ia memenangkan pertandingan atau tidak," katanya, seraya menambahkan bahwa ia bahkan tidak berhasil mencapai kompetisi ketiga karena ia ketinggalan kereta.

Dalam laporan China Youth Daily yang sama, Gabriel mengklarifikasi bahwa ia bukan "master tinju" dan hanya pernah berpartisipasi dalam sepuluh kompetisi, termasuk enam pertandingan di China.

Banyak netizen China mengatakan mereka merasa malu dengan lelucon itu dan bahkan mempertanyakan apakah penyelenggara sengaja memasangkan master Shaolin melawan seorang amatir.

"Makanan palsu, obat palsu, teknologi palsu, berita palsu, sejarah palsu, teori palsu ... dan bahkan memiliki pertandingan palsu," kata seorang pengguna Weibo dengan nama panggilan Liudana_Cilouhua.

"Sebagai murid biasa yang baru saja meninggalkan sekolah, ia hanya seorang penggemar tinju. Kenapa ia dipromosikan menjadi juara tinju berkulit hitam?" tulis pengguna lain, Ouyang Kaka.

Penyelenggara Kejuaraan Tinju Enam Negara membela laga itu dan mengklaim pertandingan tersebut hanya diputuskan sehari sebelum kompetisi.

Shi Yanzi mengatakan kepada China News setelah pertandingan bahwa "ia tak terlalu menikmati kompetisi itu" dan berharap untuk bertemu lawan yang lebih kuat di lain waktu.

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.

 
SHARES
Komentar