Pabrik Gula yang Dikelola PTPN Sudah Selayaknya Dapat Prioritas Penugasan Impor

Pabrik Gula yang Dikelola PTPN Sudah Selayaknya Dapat Prioritas Penugasan Impor
Diskusi membahas Prospek Industri Gula Nasional Setelah Revitalisasi, Jumat (28/6) di Jakarta. Foto IST

jpnn.com, JAKARTA - Petani tebu menilai sudah sepantasnya pabrik gula yang dikelola PTPN mendapat prioritas penugasan impor raw sugar pada musim giling tahun ini.

Pernyataan tersebut disampaikan HM Arum Sabil selaku Ketua Umum Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) dalam acara diskusi di Jakarta, Jumat, (28/6).

Keuntungan yang diperoleh dari pengolahan raw sugar tersebut selain untuk menutup idle capacity juga bisa digunakan untuk membeli tebu petani dan merevitalisasi mesin, sehingga tingkat rendemen bisa lebih tinggi. 

Menurut Arum, alasan pemerintah memberikan penugasan ke swasta dengan dalih lebih efisien dan mesin lebih moderen dinilai mengada-ada dan hanya dijadikan pembenaran agar impor jatuh ke pihak swasta.

Padahal setelah revitalisasi, sejumlah pabrik gula pemerintah telah dimodernisasi sehingga dipastikan mampu berkompetisi dengan pabrik gula swasta.

"Sejumlah pabrik gula BUMN tutup karena kekurangan bahan baku. Kondisi idle capacity ini bisa diatasi dengan mengolah raw sugar sehingga pabrik gula BUMN bisa kembali beroperasi," jelas Arum.

Penurunan pasokan tebu antara lain akibat penyempitan lahan tebu dan semakin menurunnya minat petani menanam tebu akibat harga tebu semakin murah. Kondisi tersebut makin diperparah dengan ketidak mampuan petani membeli pupuk dan mengatasi biaya pengolahan.

Kesiapan menerima penugasan impor juga diutarakan oleh Direktur Utama PTPN IX Iryanto Hutagaol.  PTPN yang memiliki pabrik tebu mampu mengolah sekitar 500 ribu ton dalam satu musim giling.

Alasan pemerintah memberikan penugasan ke swasta dengan dalih lebih efisien dan mesin lebih moderen dinilai mengada-ada.