Pangeran Diponegoro Kirim Kiai Nursalim yang tak Mempan Ditembak

Pangeran Diponegoro Kirim Kiai Nursalim yang tak Mempan Ditembak
Serka Bambang Suwito, Anggota TNI AD yang ditugaskan di Benteng Pendem Ngawi, saat membersihkan kompleks makam KH Muhammad Nursalim, kemarin (16/8). Foto: WS Hendro/Radar Ngawi/JPNN.com

Kata dia, Benteng stelsel itu berjumlah cukup banyak. Sebanyak 250 tentara disiagakan, enam meriam api dan 60 kavaleri disiapkan Belanda.

Belanda terus membangun benteng pertahanannya di Ngawi. Hingga Ngawi pada saat itu masih menjadi kota yang penting bagi Belanda. ‘’Sambil menyusun strategi, sebelum membangun Benteng Pendem,’’ katanya.

Jatuhnya Ngawi ke tangan Belanda membuat pangeran Diponegoro geram. Inisiator perang Jawa atau dikenal juga dengan Perang Sabil itu lantas mengutus orang kepercayannya untuk melawan Belanda.

Kiai M Nursalim akhirnya ditugaskan ke Ngawi untuk menentang segala bentuk penindasan Belanda.

Sebab, kiai Nursalim bukan orang sembarangan. Dia merupakan ulama pilih tanding hingga membuat pasukan Belanda kocar-kacir.

‘’Kiai Nursalim merupakan pengikut pangeran Diponegoro yang paling setia,’’ tegasnya.

Mendapat titah dari Pangeran Diponegoro, membuat kiai Nursalim mengatur strategi. Diantaranya berdakwah menyebarkan agama islam, sambil mengobarkan semangat perlawanan atas penindasan yang tidak berperikemanusiaan itu.

Cara pendekatannya mendapat simpati rakyat Ngawi. Hingga banyak petani yang bergabung untuk melawan Belanda. ‘’ Pasukan dari Petani itu disebut Wirotani,’’ terangnya.

Pangeran Diponegoro yang terus menggelorakan perlawanan terhadap Belanda, mendapat dukungan luas dari masyarakat.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News