PDI Jazuli

PDI Jazuli
Dahlan Iskan bersama KH Imam Jazuli Lc MA (berdiri di tengah), Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon. Foto: disway.id

Kurikulum di pesantren ini juga beda. Semester pertama hanya tiga pelajaran: pelajaran membaca Qur'an, matematika, dan fisika.

Pelajaran menghafal Qur'an ada di semester kedua. Ditambah dua pelajaran lain: matematika dan fisika.

Menghafal Qur'an-nya dengan metode baru. Dalam enam bulan semua santri sudah bisa hafal Qur'an. Khususnya santri yang IQ-nya 120 ke atas.

Yang punya IQ di bawah itu tetap harus menjalani pelajaran menghafal Qur'an. Tidak harus 30 juz (satu Qur'an terdiri dari 30 juz). Ada yang 20, 15, bahkan hanya 10 juz.

Di semester ketiga juga tiga pelajaran: bahasa Arab, matematika, dan fisika. Kitab-kitab dari Al Azhar dipelajari dalam pelajaran bahasa Arab ini. Dalam enam bulan mereka sudah harus bisa berbahasa Arab.

Di semester keempat, tiga pelajaran lagi: bahasa Inggris, matematika, dan fisika. Dalam enam bulan harus bisa berbicara dalam bahasa Inggris.

Semester kelima dan keenam khusus untuk pelajaran yang akan masuk ujian nasional. Juga untuk mempersiapkan sekolah di luar negeri: ke Timur Tengah, ke Eropa/Amerika, dan ke Tiongkok.

Yang ke Tiongkok hanya lewat yayasan ITCC –yang saya dirikan bersama beberapa teman Surabaya.

Kiai Jazuli kurang sepaham dengan ulama muda NU yang lagi ngetop sekarang: Gus Baha. Yang dari Rembang itu. Yang ia anggap terlalu berorientasi ke hukum agama masa lalu.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News