Selasa, 24 Oktober 2017 – 02:08 WIB

Peneliti Singapura Petakan DNA Durian

Selasa, 10 Oktober 2017 – 10:00 WIB
Peneliti Singapura Petakan DNA Durian - JPNN.COM

Bau buah durian yang khas sudah lama menjadi bahan perbincangan baik yang menyukai maupun yang tidak.

Sekarang peneliti di Singapura berhasil memetakan DNA buah tersebut sehingga bisa menjelaskan dari mana asal khas buah yang sering disebut sebagai 'raja buah' tersebut.

Salah seorang yang menyukai buah ini adalah Professor Bin Tean Teh, seorang peneliti kanker di Lembaga Medis Duke-National University of Singapore di Singapura.

"Buahnya sangat kaya aroma, dan rasanya lembut, dan ketika masuk ke mulut akan meleleh." kata Prof Teh.

Dalam jurnal Nature Genetics yang diterbitkan hari Selasa (10/10/2017), Prof Teh menjelaskan gen utama yang mereka temukan di dalam buah durian yang membuat buah tersebut memiliki rasa yang sangat khas tersebut.

"Biasanya pendapat mengenia durian hanya terbagi dua, mereka yang suka, dan mereka yang tidak suka. Hanya sedikit saja yang biasanya mengatakan 'ya bolehlah" mengenai durian. katanya.

Saat ini ada sekitar 30 jenis durian, beberapa bisa dimakan, beberapa lainnya tidak bisa.

Jenis durian yang paling mahal adalah Durio zibethinus — durian yang kulitnya hijau dan beratnya bisa mencapai dua kilogram.

Durian jenis itu harganya bisa mencapai $ 36 (sekitar Rp 360 ribu) perkilo.

Walau sudah diketahuii banyak jenisnya, selama ini tidak banyak yang diketahui mengenai genetik buah tersebut.

Professor Teh dan rekannya kemudian memetakan genome Durian jenis Musang King, jenis durian dari keluarga Durio zibethinus yang banyak tumbuh di Malaysia, dan dilarang dibawa di transportasi umum di Asia Tenggara karena baunya yang keras.

'Sebelum penelitian ini, belum ada yang berhasil memetakan DNA durian." kata Professor Teh.

Bau adalah untuk menarik perhatian binatang

Tim Prof Teh menemukan adanya 46 ribu gen dalam rangkaian penuh DNA buah tersebut - dua kali lebih banyak dari manusia - dan asal buah ini bisa dilacak sampai ke 65 juta tahun lalu, yang berasal dari pohon kakao, yang bisa digunakan untuk membuat coklat.

Dengan adanya rangkaian DNA tersebut, para penelitia kemudian memfokuskan perhagtian pada gen khusus yang memproduksi bau 'busuk' dari buah durian ini.

"Kami menemukan bahwa gen ini ternyata hanya ada di dalam buahnya dan tidak terdapat di daun atau di akar tanaman tersebut." kata Professor Teh.

"Ini memberikan petunjuk pertama kepada kami bahwa ini adalah gen utama yang memberi bau kuat dari durian."

Ketika para peneliti membandingkan genome durian ini dengan tanaman sejenis lain seperti kakao dan kapas, mereka menemukan adanya empat gen bernama MGL di tanaman durian sementara tanaman lain hanya satu.

Mereka juga menemukan gen yang mengeluarkan bau khas tersebut lebih aktif di durian jenis Musang King dibandingkan durian jenis Monthong, yang baunya kurang menyengat yng banyak ditanam di Thailand.

Sign showing durian and cigarettes are banned
Makan durian di tempat umum di Asia Tenggara kadang dilarang karena baunya yang kuat.

Getty Images:

Yang lebih unik lagi bahwa gen ini hanya aktif ketika buah durian tersebut sudah matang.

Para peneliti memperkirakan bahwa in terjadi karerna ada hubungannya dengan gen yang disebut ACS, yang mengatur produksi ethylene, hormon tumbuhan yang terlibat dalam proses pematangan buah.

"Hipotesa kami adalah bau ini dimasukkan untuk menarik perhatian binatang guna memakan durian, dan kemudian menyebarkan bijinya." kata Prof Teh.

Implikasinya bagi agrikultur dan keanakeragaman hayati

Professor Teh mengatakan bahwa penemuan mereka memiliki implikasi bagi perkembangan durian, yang sudah lama menjadi industri bernilai jutaan dolar di Asia Tenggara.

"Secara teoritis kita bisa menghilangkan gen MGL, dan dengan itu baunya akan lebih lemah." katanya.

"Dengan faktor pematangan, kita juga bisa memperpendek masa tumbuh dan matangnya buah ini."

Peneliti juga bisa menggunakan hasil penelitian mereka untuk memproduksi buah durian dengan kadar gula yang lebih rendah karena adanya penemuan gen lain oleh kelompok peneliti tersebut.

Prof Teh juga berharap bahwa penelitian mereka akan memberikan kontribusi untuk mempertahankan keanekaragaman hayati di kawasan.

"Ada berbagai jenis durian, beberapa diantaranya adalah jenis yang hampir punah, karena tidak bisa dijual." katanya.

"Kami ingin memperluas usaha kami dan bekerja sama dengan para pakar botani (tumbuhan). Ini adalah tujuan jangka panjang kami."

Lihat artikelnya dalam bahasa Inggris di sini

 
SHARES
Komentar