Pengakuan Ina Bertemu Kekasih di Pohon Cinta Tengah Malam, Lantas ke Kandang Sapi

Pengakuan Ina Bertemu Kekasih di Pohon Cinta Tengah Malam, Lantas ke Kandang Sapi
Pohon cinta di Desa Adat Sade, Rembitan, Pujut, Lombok Tengah. Foto: ANTARA/Lia Wanadriani Santos

Bayu, warga Desa Adat Sade, mengatakan masyarakat di tempatnya tinggal masih melanggengkan tradisi menikah tanpa tunangan atau lamaran.

Pasangan yang sudah mengikat janji setia dan suka sama suka pada malam hari bertemu di pohon cinta sebelum meminta izin menikah dari ayah sang wanita.

"Setelah (bertemu di pohon cinta) itu dibawa kabur lari ke luar kampung. Besoknya langsung ada yang datang pihak laki memberi tahu ke ayahnya perempuan bahwa anaknya tidak hilang, tetapi diculik sama si A. Kalau tidak ada utusan yang datang, orang tua kan mencari," papar Bayu yang berprofesi sebagai pemandu.

Para perempuan di Desa Adat Sade umumnya menikah di usia 22 tahun. Bila lebih dari usia itu belum menikah, warga setempat menyebutnya perawan tua.

Setelah menikah, perempuan biasanya membantu perekonomian keluarga dengan menjual hasil tenunan mereka. Suami mendapatkan rezeki dari bertani.

Perempuan Sasak biasanya sudah diajari menenun sejak usia belasan tahun. Keterampilan menenun membantu mereka melatih kesabaran.

Tenun yang mereka hasilkan nantinya dijual dengan harga beragam tergantung tingkat kesulitan pola dan luasan kain. (antara/jpnn)

Pohon cinta menyimpan arti mendalam bagi pasangan muda-mudi Suku Sasak yang serius menjalin kasih ke jenjang pernikahan.


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News