Pengakuan Ina Bertemu Kekasih di Pohon Cinta Tengah Malam, Lantas ke Kandang Sapi

Pengakuan Ina Bertemu Kekasih di Pohon Cinta Tengah Malam, Lantas ke Kandang Sapi
Pohon cinta di Desa Adat Sade, Rembitan, Pujut, Lombok Tengah. Foto: ANTARA/Lia Wanadriani Santos

Dalam tradisi masyarakat Sasak, perempuan yang dipilih untuk dipinang akan dibawa pergi semalam tanpa sepengetahuan orang tua mereka atau disebut kawin lari.

Namun, bukan dalam arti kawin lari sebenarnya, karena sang wanita semata dibawa pergi tanpa ada ritual apapun layaknya pernikahan pada umumnya.

Orang tua yang tak bisa menemukan putri mereka dalam semalam harus menikahkannya dengan pemuda pilihan sang putri.

"Pas malamnya enggak boleh kita (perempuan Sasak) disentuh-sentuh sebelum akad nikah. Dibawa sehari semalam. Enggak bisa dibawa orangtua harus sudah sehari semalam. Kalau ketemu bisa kita dibawa orang tua. Semisal, ibu bapak kita enggak mau menikahkan kita," tutur Ina Topan.

"Yang cewek harus pintar-pintar cari akal ke orang tua. Mungkin dia ngakalin untuk pergi buang air kecil atau ke mana. Setelah itu celingak-celinguk keluar," sambung Ina.

Hanya saja, kata Ina, tak semua wanita Sasak di Desa Sade bertemu dengan pasangan terkasihnya di pohon cinta.

Lelaki yang menyukai seorang wanita tak harus memastikan si wanita merasakan hal serupa. Dengan kata lain, wanita umumnya akan menerima pinangan seorang lelaki tanpa didasari rasa cinta.

"Tetapi kalau nikah sama sepupu walau kita tidak suka sama laki-lakinya kalau sudah suka laki-lakinya, ayo aja. Jadinya cinta tumbuh belakangan. Dulu saya suka sama suka. Alhamdulillah," ungkap Ina Topan yang kini dikaruniai dua orang anak itu seraya terkekeh.

Pohon cinta menyimpan arti mendalam bagi pasangan muda-mudi Suku Sasak yang serius menjalin kasih ke jenjang pernikahan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News