Pengalaman Baru Tim Ekspedisi NKRI 2015

Temukan Tumbuhan Langka dan Fosil Kerang Raksasa

Pengalaman Baru Tim Ekspedisi NKRI 2015
Tim Ekspedisi NKRI 2015 menemukan hal-hal langka selama perjalanan ke Indonesia Timur. Foto: Ilham Dwi Wancoko/Jawa Pos

Dengan temuan tersebut, dapat diprediksi, Pulau Buaya dan Pulau Pura merupakan dasar laut yang terangkat ribuan tahun lalu. Sehingga banyak makhluk dasar laut yang ikut terbawa dan menjadi fosil. ”Tapi, ini masih harus diteliti terlebih dahulu. Kalau sudah ada hasil penelitian, baru bisa dipastikan. Termasuk fosil kerang tersebut,” papar Yuri saat ditemui di Mako Kopassus.

Tapi, Kopassus dan para ahli tidak berhenti di situ. Tim Ekspedisi NKRI merancang pertemuan dengan Bupati Alor Amon Djobo. Bukan hanya untuk melaporkan adanya temuan fosil kerang raksasa, lebih dari itu, ada gagasan yang muncul dari para pembela NKRI. Yakni membuat konservasi fosil kerang dan objek pariwisata. Pertemuan itu berlangsung lancar.

”Ya, kami tidak sekadar meneliti, tapi juga menggali potensi wisatanya. Dengan begitu, daerah juga bisa terbantu mengetahui setiap potensi yang bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Anggota Tim Ekspedisi NKRI berjumlah 1.227 orang yang terdiri atas Kopassus TNI-AD, Polri, akademisi, dan mahasiswa. Mereka menyebar di sejumlah subkorwil, di antaranya Karangasem, Lombok Timur, Sumbawa, Bima, Sumba Barat Daya, Ende, dan Belu. ”Tim dibagi untuk bisa menjelajah dan mengetahui potensi setiap daerah,” ujarnya.

Masih di Alor yang masuk subkorwil NTT, sejumlah anggota tim mencoba mendeteksi kemungkinan potensi lain. Mereka bekerja sama dengan warga sekitar untuk mengetahui kemungkinan adanya sesuatu yang baru. ”Akhirnya ada yang bersama nelayan mencoba berlayar mencari ikan di sekitar Alor,” ucapnya.

Tak disangka-sangka, nelayan dan anggota Tim Ekspedisi NKRI yang menjaring ikan mendapatkan sesuatu. Mungkin ikan atau sejenisnya, namun yang pasti cukup besar. Tangkapan yang saking besarnya membuat nelayan dan anggota tim kesulitan untuk mengangkatnya. Setelah bersusah payah, ternyata sebuah lobster berukuran 1 meter diangkat. ”Lobster besar ini cukup menarik untuk diketahui jenisnya,” kata dia.

Setelah itu lobster tersebut difoto dan dijadikan contoh untuk dikirim ke laboratorium. Hasilnya, lobster itu merupakan jenis lobster mutiara. ”Lobster ini tentu menjadi salah satu temuan yang didata dan bisa dijadikan potensi untuk daerah,” ujarnya.

Selain fosil kerang dan lobster mutiara, tim ekspedisi menemukan berbagai flora dan fauna yang masih dicatat untuk dipastikan apakah merupakan jenis baru atau tidak. Antara lain bintang laut yang jenisnya belum diketahui di Sumbawa, bintang laut biru di Sumbawa, dan rajungan atau kepiting di Alor.

Pasukan elite seperti Kopassus tidak hanya cepat bertindak dalam situasi genting mempertahankan wilayah Indonesia. Kopassus juga piawai sebagai motor

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News