Pengalaman Warga Asal Indonesia Menjalankan Puasa di Mesir, Norwegia, Cile, dan Meksiko

Pengalaman Warga Asal Indonesia Menjalankan Puasa di Mesir, Norwegia, Cile, dan Meksiko
Munirul Ilyas (dua dari kiri) merayakan Ied bersama istrinya Mutia Rahmatunnisa di Kairo. (Koleksi pribadi)

"Saya kangen tradisi nyadran di Jawa untuk menyambut puasa, taraweh di masjid, malam Lailatul Qadar dan malam takbiran sebelum lebaran."

"Saya kangen membuat ketupat lebaran bersama ibu dan saudara-saudara yang lain dan ibu yang merebus ketupat tersebut sampai tanak dan digantung-gantungkan sebelumnya," kata perempuan yang sudah lebih dari 34 tahun tinggal di luar negeri ini.

Senada dengan Retno, Farrah juga merindukan tradisi di Indonesia saat Lebaran, misalnya ketika orang-orang yang lebih tua memberi amplop berisi uang untuk anak-anak seusai salat Ied yang tidak ditemukannya di Cile.

"Tentu [di sini] juga tidak ada budaya sowan ke keluarga, sungkem juga, jadi setelah pulang dari masjid ya masing-masing menjalankan kegiatan seperti biasa," katanya.

Sementara itu menurut Ilyas, karena saat ini ada sekitar delapan ribu mahasiswa asal Indonesia yang di berbagai universitas di Mesir, dia tidak merasa terlalu kesepian walau jauh dari Indonesia.

Ilyas  mengatakan sebelum COVID, salat Iedul Fitri dilanjutkan halal bihalal dengan hidangan khas nusantara biasanya dilangsungkan di Kedutaan Indonesia.

"Namun setelah COVID kami melakukan salat di masjid-masjid besar di Kairo bersama keluarga dan teman-teman dekat setelah itu berfoto bersama," pungkas Ilyas yang sambil kuliah juga menjadi guru di sekolah Indonesia di Mesir.



Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:

Berpuasa hingga 21 jam, tidak bisa membuat ketupat, sowan, sungkem, atau bagi-bagi amplop setelah salat Ied menjadi pengalaman yang dibagikan warga Indonesia yang berpuasa dan berlebaran di luar Indonesia


Redaktur & Reporter : M. Adil Syarif

Sumber ABC Indonesia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News