Pengamat: Bipolar Bursa Timah Bikin Bingung Pembeli

Pengamat: Bipolar Bursa Timah Bikin Bingung Pembeli
Timah batangan. Foto: www.thinglink.com

Terganggunya pasar elektronik atau barang dengan bahan dasar timah, maka akan berperangaruh langsung terhadap Indonesia. Lemahnya permintaan pasar, menyebabkan pembelian timah turut lesu.

"Nah, kalau demand dari alat elektronik itu menurun karena daya beli orang menurun ya pasti akan ngaruh ke demand nya timah. Apalagi pergerakan harga komoditas kan rentan dengan news, rumor dan sentimen," tegasnya.

Sedangkan pandangan lain disampaikan Abi Rekso pengamat perdagangan Asia Tenggara. Dia mengungkapkan, semakin tertekan dengan terbaginya bursa perdagangan timah di Indonesia. Pada akhir 2019 Mendag Enggar membatalkan Peraturan Menteri Perdagangan No.32/M-DAG/Per/6/2013 tentang Ekspor Timah. Dimana hal itu berkonsekuensi menjadikan dualisme bursa Timah Indonesia

Ketika terjadi bipolar perdagangan timah di Indonesia, maka banyak pembeli yang merasa bingung atas kebijakan tersebut. Di waktu yang sama pembeli timah Indonesia, kian beralih ke pasar perdagangan timah Singapura.

Abi merekomendasikan pemerintahan Jokowi untuk memperhatikan upaya pemulihan harga timah. Jika tidak ingin harga timah Indonesia terus merosot dalam pasar global.

"Presiden Jokowi, perlu meninjau kembali kebijakan dua bursa perdagangan timah di Indonesia. Selain itu, Peraturan Menteri Perdagangan No.32/M-DAG/Per/6/ 2013 tentang Ekspor Timah perlu dijalankan kembali. Karena dengan itu, harga timah Indonesia bisa kembali pulih karena menguatnya keyakinan pasar pembeli timah," tutupnya. (dil/jpnn)

Timah merupakan komoditas strategis dan komoditi tambang ekspor unggulan Indonesia. Kebutuhan timah dunia berkisar 200.000 ton per tahun


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News