Penjaja Seks di Kota Ini Komplit

Laporan Khusus Dari Radar Tasikmalaya

Penjaja Seks di Kota Ini Komplit
Penjaja Seks di Kota Ini Komplit
Seorang warga Dadaha Hendro mengakui, sekalipun kafe-kafe di kawasan ini sudah dihabiskan namun tidak susah untuk mencari hiburan sex di kawasan ini. " Mereka hanya sembunyi kalau diburu satpol PP, kalau sama yang lain mah pastilah tidak sembunyi," ujar Hendro. Ia mengakui, setiap remaja yang mangkal di sini, tidak bisa langsung diajak negosiasi. "Mereka semua ada perantaranya (germo red). Dan pada umumnya mereka tidak mau langsung-langsung," Hendro menambahkan.

Soal Tarif, lagi-lagi Hendro menyebut paket hemat. "Cukup dengan beberapa lembar ratusan ribu aja," ujarnya. Ia memberikan tip, kalau mau mendapatkan harga murah maka datanglah pada tengah malam. "Kian larut kian murah," ujarnya. Malahan, lanjut Hendro, bagi yang sudah terbiasa ke sini, ada yang menyebut tarif "cendol".

Begitulah keadaannya. Hendro memastikan maraknya malam panjang di Tasikmalaya tidak lepas dari himpitan ekonomi dan kian banyaknya tuntutan hidup. "Ya memang ada yang beralasan akibat kegagalan bercinta. Tetapi, saya tidak yakin. Karena pada umumnya toh mereka berusaha mencari uang di sini," Hendro menegaskan. Mawar yang sedari tadi menemani perbincangan ini membenarkan penjelasan Hendro.

Selain kawasan Dadaha keramaian malam juga bisa dijumpai di kawasan perempatan Jalan KH Zaenal Mustofa atau perempatan Nagarawi. Ada sebuah kafe yang diduga dijadikan tempat mangkal para wanita di kawasan itu. Kafe tersebut buka hingga dinihari.  Malam itu ada lima mobil yang mangkal, sementara beberapa wanita muda tampak dengan dandanan seksi. Usianya rata-rata 20 tahunan Setelah ditelurusi rupanya mereka adalah para pemandu lagu yang memang mencari makan setelah bekerja menjadi pemandu lagu.

Tasikmalaya sekarang bukan kota sepi lagi. Kehidupan malamnya makin semarak.Gebyar kehidupan malam, kafe, karaoke, warung remang-remang dan tempat-tempat

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News