Penjelasan Ketua Panitia SNMPTN terkait Kasus SMAN 3 Semarang

Penjelasan Ketua Panitia SNMPTN terkait Kasus SMAN 3 Semarang
Foto ilustrasi dok.JPNN

Melalui password yang dimiliki, siswa memverifikasi data dan kemudian mendaftar SNMPTN memilih 2 jurusan dari 2 PTN, salah satu PTN harus berada di kota asal siswa. Siswa juga diminta mengunggah fotonya, kemudian siswa nanti akan mendapatkan kartu tanda pendaftaran.

Kepala sekolah memberikan rekomendasi pada setiap siswa yang mendaftar. Bagi yang mendaftar di cabang olahraga dan seni, harus pula mengunggah portofolio karya dan prestasinya. Proses seleksi berdasar data-data akademis selama bersekolah di SMA itu.

Nah, dasar seleksi SNMPTN adalah dari riwayat nilai-nilai siswa itu. 

Rochmat mengatakan, ada nilai-nilai yang tidak diisi dalam PDSS itu sehingga mengurangi bobot nilainya.  "Peserta sekolah sudah diberi info, silakan menentukan kelas XII pakai kurikulum yang mana. Kalau SKS ikuti apa yang harus diisi, mereka tidak mengikuti itu. Kekeliruan mengisi di PDSS, ada yang nilainya tidak dimasukkan di formulir. Itu yang menyebabkan mereka banyak yang nggak lulus," ungkap Rochmat.

Ketika ditanya bagian formulir mana yang tidak diisi, Rochmat yang juga Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini menjawab. 

"Nilai pelajaran tertentu semester 1 atau 3 tidak terisi dan itu menyebabkan di sistemnya tidak tercatat. Kalau tidak mengisi angka kan nggak ada nilainya. Kan ada beberapa pelajaran agama, bahasa Indonesia, matematika. Nah, mata pelajaran yang tidak dimasukkan (nilainya), kan berkurang nilainya, tidak satu-dua yang yang tidak meng-upload (nilai) itu". (den/fai/aro/ce1/sam/jpnn)



Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News