Penyandang Difabel di Indonesia Masih Merasa Dianggap Beban Masyarakat

"Yang paling menyulitkan saya selama bekerja terutama tidak tersedia nya kamar mandi atau WC yang aksesibel di semua kampus tersebut sampai hari ini."
"Kalau untuk buang air kecil mungkin tidak terlalu masalah, tapi tidak untuk buang air besar."
"Tapi memang soal kemudahan bergerak ini memang merupakan isu utama bagi saya. Karena seringkali saya tidak bisa mengikuti kegiatan seperti rapat atau diskusi jika diadakan di ruangan yang berada di lantai atas," jelasnya.

Thamrin yang sudah banyak melakukan perjalanan baik di Indonesia maupun ke luar negeri mengatakan Indonesia masih jauh tertinggal dalam soal fasilitas bagi para penyandang disabilitas.
"Kemajuannya relatif lambat di Indonesia. Memang sudah ada berbagai perubahan, tetapi seringkali yang saya lihat pembangunan fasilitas untuk difabel sekedar memperlihatkan komitmen tetapi kurang fungsional," kata Thamrin.
Menurutnya dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Malaysia, Indonesia masih tertinggal dalam soal kemudahan fasilitas bagi penyandang disabilitas.
"Di beberapa universitas [di Malaysia] yang pernah saya kunjungi selalu tersedia fasilitas untuk difabel, termasuk toilet khusus. Juga bus-busnya sudah menyediakan ramp untuk memudahkan pengguna kursi roda masuk," katanya lagi.
Memperingati Hari Difabel Internasional yang jatuh pada 3 Desember setiap tahunnya, ABC Indonesia berbicara dengan mereka yang hidup dengan disabilitas dan aktif di perguruan tinggi
- Partai Buruh Menang Pemilu Australia, Anthony Albanese Tetap Jadi PM
- Beri Pelatihan Digital Marketing, Sandiaga Uno Ingin Difabel Lebih Berdaya
- Dunia Hari Ini: Israel Berlakukan Keadaan Darurat Akibat Kebakaran Hutan
- Dunia Hari Ini: Amerika Serikat Sepakat untuk Membangun Kembali Ukraina
- Realisasi Investasi Jakarta Triwulan I-2025 Capai Rp 69,8 Triliun, Tertinggi di Indonesia
- Ibas Tegaskan Indonesia dan Malaysia Tak Hanya Tetangga, Tetapi..