Kamis, 18 Oktober 2018 – 13:57 WIB

Perdana Menteri Australia Bela Keputusan Donasi Rp 4,44 Triliun

Jumat, 03 Agustus 2018 – 18:00 WIB
Perdana Menteri Australia Bela Keputusan Donasi Rp 4,44 Triliun - JPNN.COM

Perdana Menteri Australia, Malcolm Turnbull, bersikeras bahwa donasi pemerintahannya sebesar hampir setengah miliar dolar kepada yayasan swasta yang berhubungan dengan perusahaan-perusahaan sumber daya besar telah dilakukan secara transparan, meskipun badan itu sendiri tidak meminta uang.

Poin utama:

  • Malcolm Turnbull membela transparansi donasi senilai $ 444 juta ( atau setara Rp 4,44 triliun) ke Yayasan Great Barrier Reef
  • Pihak yayasan mengatakan itu adalah "kejutan mutlak" ketika pihaknya diberitahu bahwa mereka mendapatkan donasi
  • Pihak yayasan bersikeras akan bertanggung jawab atas penggunaan donasi tersebut

Pada bulan April, Pemerintah Australia mengumumkan akan memberikan donasi kepada Yayasan Great Barrier Reef senilai $ 444 juta (atau setara Rp 4,44 triliun) untuk mendanai proyek-proyek guna meningkatkan kesehatan terumbu karang.

Yayasan itu hanya memiliki enam staf ketika diberitahu bahwa pihak mereka mendapatkan hibah besar, yang disebut direktur pelaksana yayasan, Anna Marsden, sebagai "kejutan mutlak".

Donasi sebesar $ 444 juta (atau setara Rp 4,44 triliun) itu adalah sumbangan terbesar Pemerintah Australia untuk yayasan swasta dalam sejarah Australia, dan Partai Buruh Australia menuntut penjelasan mengapa tidak ada tender sebelum donasi diberikan.

Pada hari Jumat (3/8/2018) PM Turnbull membela keputusan itu, menyebutnya sebagai "kontribusi dan investasi terbesar yang pernah diberikan untuk kesehatan Great Barrier Reef".

"Yayasan Great Barrier Reef adalah organisasi yang luar biasa, ini telah dilakukan sepenuhnya secara transparan," kata Turnbull.

"Ada hampir 100-halaman perjanjian antara Pemerintah dan yayasan ini mengenai bagaimana donasi akan diinvestasikan dan dibelanjakan, dan itu semua akan menjadi subyek pengawasan baik oleh Pemerintah dan kantor audit nasional Australia."

"Ini adalah investasi luar biasa untuk memastikan bahwa kami menjaga kesehatan Great Barrier Reef," katanya.

Tapi Partai Buruh Australia di tingkat Federal menyebut donasi itu "penggelontoran uang tunai" yang dilakukan tanpa "proses, kejujuran atau dasar".

Anggota Parlemen Tony Burke menuntut untuk mengetahui mengapa uang itu tidak diberikan ke lembaga pemerintah seperti CSIRO, Departemen Lingkungan atau Otoritas Taman Laut Great Barrier Reef.

Donasi didiskusikan tanpa kehadiran pejabat publik lainnya

Komite Senat sedang menyelidiki donasi itu.

Pada pekan ini, pihak mereka mendengar bahwa tidak ada pejabat publik lainnya dalam pertemuan antara Perdana Menteri dan ketua yayasan, John Schubert, di mana keputusan untuk menyumbangkan uang itu dibahas.

Bendahara Australia, Scott Morrison, mengatakan keputusan itu disetujui oleh Komite Pengkajian Pengeluaran Pemerintah dan para menteri senior lainnya.

"Donasi itu disetujui oleh Kabinet bersama dengan setiap komitmen pengeluaran lainnya yang terkandung dalam anggaran tahun ini, itu dilakukan dengan proses normal," kata Morrison.

Tapi Senator Partai Buruh, Peter Whish-Wilson, menyebut kebijakan itu sebagai "keputusan sepihak" yang mengkhawatirkan.

"Kami belum pernah mendengar tentang proses di mana penerima setengah miliar dolar uang pembayar pajak mendapatkannya dari Perdana Menteri dalam pertemuan rahasia tanpa pernah mereka meminta uang itu sebelumnya," kata Senator Whish-Wilson.

Marsden mengakui suntikan uang tunai tiba-tiba itu adalah kejutan.

"Tentu saja kami harus melakukan beberapa peningkatan," katanya.

Ia mengatakan, proses keputusan untuk memberikan uang kepada yayasan itu adalah pertanyaan bagi Pemerintah, tetapi menyangkal bahwa itu merupakan penggunaan dana publik yang buruk.

"Kami benar-benar menyadari ini adalah sejumlah besar dana publik yang telah dipercaya melalui kami untuk dimanfaatkan, tetapi juga untuk disalurkan dengan penuh tanggung jawab, "katanya.

"Jika kami gagal dalam akuntabilitas, transparansi, kami akan mengkajinya."

Yayasan ini didukung oleh perusahaan termasuk BHP, Shell dan Qantas serta perusahaan pertambangan batubara Rio Tinto dan Peabody Energy.

Marsden mengatakan yayasan itu akan melanjutkan jenis pekerjaan yang telah dilakukannya selama 18 tahun, "yang merupakan penggalangan dana untuk terumbu karang dan proyek desain serta kemitraan untuk perlindungan karang".

Ia mengatakan, "tanpa keraguan" perubahan iklim adalah ancaman terbesar bagi terumbu karang.

"Kami secara aktif mempromosikan dan mengkomunikasikan kepada organisasi-organisasi ini, kepada para pemimpin perusahaan ini tentang ancaman yang diberikan perubahan iklim dan membuat mereka bergabung dalam perjalanan ini bersama kami," katanya.

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.

 
SHARES
Komentar