Perempuan-perempuan Manis di Kapal Perang, Berjauhan dengan Keluarga dan Pacar

Perempuan-perempuan Manis di Kapal Perang, Berjauhan dengan Keluarga dan Pacar
UNIFORM LAYAR: Dari kiri, Yohanna Sunippy Siahaan, Kharismawati, Devi Endah Yunitasari, Putri Efsan Nendiana, dan Candra Ayu Susilowati. Foto: Suryo Eko Prasetyo/Jawa Pos

”Sebuah tantangan setelah dua tahun lebih di Kobangdikal kemudian menjadi Kowal angkatan pertama di KRI Surabaya,” tutur Efsan.

Efsan merasa senang bisa berlayar mengelilingi hampir seluruh perairan Indonesia meski belum genap setahun menjadi anggota KRI. ”Yang terasa di KRI Surabaya selama ini baru perasaan suka karena sering kumpul leting. Belum ada dukanya, walau waktu berlayar ke luar Jawa lebih lama dibanding sandar di darat,” ujar satu-satunya bintara Kowal dengan kejuruan perbekalan di kapal perang bernomor lambung 591 itu.

Demikian pula Devi. Sebagai Kowal termuda di KRI Surabaya, dia tidak mau kalah oleh seniornya. Alumnus pendidikan pertama bintara Kowal angkatan ke-32/2012 yang piawai tata usaha kapal perang jumbo tersebut juga lincah di lintasan lari. Perempuan yang baru genap 22 tahun pada 6 Juni lalu itu sedang disibukkan seleksi atlet orienteering (navigasi lintas alam) memperebutkan Piala Panglima TNI di Bandung.

”Barangkali karena sering ikut lomba lari 10 kilometer dan menguasai navigasi, lantas saya diperintah pimpinan mewakili TNI-AL wilayah timur,” terangnya. Kowal asal Madiun itu selama di KRI Surabaya kerap belajar kepada anggota korps pelaut laki-laki yang bertugas sebagai juru navigasi. Pengetahuannya membaca peta dan kompas kian terasah berkat lingkungan kerja yang mendukung.

Sebelum lolos tes bergabung di KRI, Devi setahun lebih berdinas sebagai bintara TU di Kesekretariatan Dinas Psikologi TNI-AL. Selama itu pula dia lebih sering berada di kantor Raya Juanda. Sejak menjadi anggota tetap kapal, belasan kota pelabuhan dia singgahi.

”Enaknya bisa keliling Indonesia. Dukanya pas AC (air conditioner) lagi mati karena perbaikan, rasanya seperti berada dalam sauna raksasa,” kenang Devi, lantas tersenyum.

Sebagai Kowal yang juga terikat peraturan kedinasan, mereka menerima konsekuensi tidak menikah selama masa tertentu. Setidaknya selama dua tahun sejak bertugas di kapal. Mereka bisa mengajukan permohonan menikah setelah lewat masa itu dan turun kapal (bertugas di darat) lebih dulu.

”Kami sangat menikmati meski harus berjauhan dengan keluarga dan pacar,” ujar Devi tersipu. Saat kapal sandar, mereka mendapat jatah libur tidak lebih dari sepekan. Kecuali sudah memproses pengajuan cuti tahunan.

PARA perempuan manis ini ciut nyali. Di perairan NKRI, deburan ombak laut yang menerpa KRI Surabaya dianggap hal biasa. Mereka justru terlibat dalam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News