Petaka di Kartanegara

Wakil Bupati Nyaris Celaka

Petaka di Kartanegara
Reruntuhan jembatan Kartanegara Tenggarong, yang runtuh Sabtu (26/11) pukul 16.20 Wita. Foto: ADI CHANDRA/KALTIM POST
"Saya coba menyelamatkan ibu yang terguling-guling, terhempas dari motor, lalu terjepit besi jembatan," kisahnya. Di sekelilingnya, debu dan material yang beterbangan membuat pandangan terbatas. "Pokoknya saya tarik saja dia. Ada dua orang lagi yang saya tarik ke pinggir," cerita pemuda yang bekerja di Rumah Makan Ponorogo, tak jauh dari jembatan.

Johan ingat, ketika dia baru saja menghidupkan mesin sepeda motornya, iring-iringan kendaraan Wakil Bupati Kukar Ghufron Yusuf baru saja lewat. Wakil Bupati meninggalkan Gedung Putri Karang Melenu di Tenggarong Seberang untuk menyiapkan pesta pernikahan anaknya.

Selang semenit setelah rombongan lewat, Johan mendengar suara yang sangat nyaring, seperti jet yang menghantam bumi. Nyaring sangat dahsyat. Khaidi, warga Desa Perjiwa, Tenggarong Seberang yang rumahnya dua kilometer dari jembatan bahkan masih sangat jelas mendengar.

"Saya langsung dapat telepon. Katanya jembatan runtuh. Saya enggak percaya. Pas keluar dan lihat dari atas, innalillahi," tuturnya. Khaidi yang dulunya mengemudikan tug boat penarik ponton batu bara ini langsung ke lokasi. "Runtuh begitu saja. Tidak ditabrak apa-apa. Saya dulu waktu masih bawa kapal tahu betul jembatan ini tidak mungkin ditabrak. Apalagi cuaca cerah," sebut pria 50 tahun ini.

BUTIR nasi di piring Agus Harinanto, 27 tahun, belum habis tatkala suara yang membisingkan telinga terdengar, Sabtu (26/11) sekitar pukul 16.00 Wita.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News