Pilkada Sehat Berbudaya, Tanpa Brutus dan Malinkundang

Oleh: Yusuf Susilo Hartono (Bidang Pendidikan, Pelatihan dan Sosialisasi Mappilu PWI)

Pilkada Sehat Berbudaya, Tanpa Brutus dan Malinkundang
Ketua Bidang Pendidikan, Pelatihan dan Sosialisasi Mappilu PWI, Yusuf Susilo Hartono. Foto: Twitter @ys_hartono

jpnn.com - Pelaksanaan Pilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di 270 daerah, terdiri dari 9 provinsi, 224 kabupaten dan 37 kota, di masa pandemic Covid 19 ini, oleh Pemerintah, DPR, KPU akan tetap dilaksanakan 9 Desember 2020. Bahkan oleh cendekiawan Prof Azumardi Azra disebut dengan semangat rawe-rawe rantas, malang-malang putung—pokoknya jalan terus walau banyak rintangan

Oleh karena bangsa ini belum punya model Pilkada di musim pagebluk sebelumnya, maka Masyarakat dan Pers Pemantau Pemilu (Mappilu PWI) memilih tagline: “Pilkada Sehat dan Berbudaya”.

Tagline ini mengandung sikap, visi misi, doa, sekaligus harapan, terhadap Pilkada Serentak 2020 yang melibatkan sekitar 100 juta orang, yang sama-sama mempertaruhkan nyawa, baik di sisi penyelenggara maupun rakyat peserta Pilkada.

Adapun pilkada sehat dan berbudaya, di dalamnya mengandung nilai: kepatuhan pada 3M (menggunakan masker, cuci tangan dan jaga jarak), sehat birokrasi, sehat anggaran, sehat permainan partai dan calonnya, hingga sehat dalam proses pelaksanaan kampanye, pencoblosan, penghitungan suara, pengawasan, hingga penegakan hukum yang berkeadilan.

Sedangkan berbudaya bisa dimaknai bersih dari politik uang, politik transaksional, bersih dari permainan dinasti, menjunjung tinggi kebenaran, kejujuran, keadilan, kepercayaan, kearifan, dan sportivitas.

Selain itu tidak menggunakan jurus Brutus  dan Malinkundang. Kedua tokoh dari latar budaya berbeda itu – Brutus dari Mitologi Yunani, dan Malinkundang dari folklore Sumatera Barat – dapat kita tafsir sebagai sosok-sosok pengkhianat yang telah membunuh orang yang berjasa, dan melupakan janji-janjinya setelah merebut kursi kekuasaan). Sehingga Sehingga Pilkada 2020 ini, dapat menghasilkan kepemimpinan yang legitimit , visioner, dan pro-rakyat.

Kita sama-sama tahu dan berada di dalam demokrasi yang sedang “sakit”, akibat politik uang yang telah mengurat mengakar dari bawah sampai atas. Juga akibat dari politik dinasti, oligarki, serta banyak lagi patologi politik yang menggerogoti daulat rakyat. Oleh karena itu, mau tidak mau, kita bersama harus bisa mewujudkan Pilkada sehat dan berbudaya tersebut.

Hingga hari ini, pandemic Covid 19 di Tanah Air terus meraja lela. Data sementara menunjukkan warga yang positif Covid mencapai lebih dari 280.000 orang dari berbagai usia dan suku bangsa, sedangkan yang meninggal telah melangkahi angka psikologis 10.000.

Setiap Pemilu, termasuk Pilkada, syahwat kekuasan memerlukan kontrol yang ketat dari media dan pers. Dalam konteks 'Pilkada sehat berbudaya', tidak boleh memberi ruang pada para Brutus dan Malinkundang.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News