Please, Jangan Suuzan kepada Presiden Jokowi soal Baasyir

Please, Jangan Suuzan kepada Presiden Jokowi soal Baasyir
Abu Bakar Baasyir saat tiba di RSCM untuk menjalani pemeriksaan kesehatan, Kamis (1/3). Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Pengamat terorisme yang juga Rektor IAIN Pontianak M. Syarif meyakini keputusan Presiden Joko Widodo alias Jokowi menyetujui pembebasan bersyarat bagi Abu Bakar Baasyir bukan karena demi pencitraan jelang Pemilu 2019. Menurut Syarif, pertimbangan kemanusiaan jauh lebih menonjol dalam persoalan Baasyir.

“Pertimbangannya kan kemanusiaan. Ba'asyir sudah sepuh, 81 tahun, kesehatannya menurun, sakit-sakitan, butuh perawatan khusus bersama keluarga,” kata Syarif.

Menurut Syarif pertimbangan itu cukup bijaksana. Apalagi, katanya, Baasyir pada akhir 2018 lalusudah memasuki masa pembebasan bersyarat setelah menjalani hukuman selama sembilan tahun dari vonis pengadilan selama 15 tahun.

“Karena tidak bisa dibantah, alasan kemanusiaan itu bukan dibuat-buat,” kata Syarif. Baca juga: Baasyir Ogah Bersumpah Setia kepada Pancasila, Begini Reaksi Pak Jokowi

Lebih lanjut Syarif menilai ketakutan akan munculnya teror pasca-pembebasan bersyarat Baasyir merupakan hal berlebihan. Alasannya, Baasyir selain sudah sepuh juga telah ditinggalkan banyak pengikutnya.

“Enggak usah khawatir, aparat kita sangat paham soal ini,” tegasnya. Baca juga: Cerita Yusril tentang Keinginan Jokowi Bebaskan Baasyir dari Bui

Syarif menambahkan, jika jika sampai ada indikasi Baasyir bakal terlibat terorisme lagi maka pembebasan bersyaratnya tinggal dicabut sehingga pendiri Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah itu tinggal dimasukkan ke penjara lagi. Syarif meyakini polisi punya kemampuan deteksi dini.

“Faktanya 2018 saja ada 396 terduga teroris yang ditangkap. Kemampuan polisi kita canggih, punya sistem deteksi dini dan diakui dunia,” ujarnya.

Rektor IAIN Pontianak M Syarif yang juga pengamat terorisme meyakini keputusan Presiden Jokowi menyetujui pembebasan bersyarat bagi Abu Bakar Baasyir bukan demi pencitraan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News