JPNN.com

Presiden Donald Trump Tinggal Sejarah, Pendukungnya Masih Saja Berulah

Rabu, 20 Januari 2021 – 23:42 WIB
Presiden Donald Trump Tinggal Sejarah, Pendukungnya Masih Saja Berulah - JPNN.com
Ilustrasi pendukung Donald Trump membawa senjata api laras panjang. Foto: Reuters

jpnn.com, TOKYO - Sekelompok warga Jepang simpatisan Donald Trump turun ke jalanan Ibu Kota Tokyo, Rabu, dan meneriakkan dukungan untuk Presiden AS itu di masa akhir jabatannya—beberapa jam sebelum penerusnya, Joe Biden, dilantik.

Sekitar 120 orang ikut serta dalam aksi unjuk rasa di pusat kota tersebut, dan mereka mengibarkan bendera Amerika dan bendera Jepang serta membawa spanduk bertuliskan klaim bahwa Trump adalah “pemenang sesungguhnya” dalam pemilu AS pada 3 November 2020.

Padahal menurut hasil penghitungan resmi, Biden memenangkan pemilu dengan total 306 suara elektoral, sedangkan Trump memperoleh 232 suara elektoral.

“Kami ingin menunjukkan bahwa banyak orang di Jepang yang mendukung Presiden Trump. Kami semua berseru bersama sehingga suara kami dapat terbang melampaui Samudera Pasifik dan menjangkau AS,” kata Naota Kobayashi, panitia aksi.

Sejumlah simpatisan Trump di Jepang berada pada posisi yang sama kerasnya dalam melawan China. Orang-orang seperti Kobayashi adalah bagian dari umat Kristen konservatif, sementara yang lainnya menganut teori konspirasi QAnon—yang menyebut Trump secara rahasia sedang melawan predator seks anak global.

Di Tokyo, telah berlangsung beberapa kali unjuk rasa pro Trump, yang para pesertanya mengibarkan spanduk kampanye Trump dan mengenakan topi merah Make America Great Again. Namun aksi terbaru ini lebih kecil dibandingkan aksi-aksi sebelumnya.

Mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, yang mengundurkan diri pada Agustus 2020, menjalin hubungan yang erat dengan Trump, misalnya bermain golf bersama, seringkali melakukan percakapan telepon, dan menggelar pertemuan.

Sementara usai masa pemerintahan Trump, Biden akan menjadi presiden ke-46 AS yang diresmikan melalui upacara di Washington—yang digelar tidak dengan banyak orang, karena situasi pandemi COVID-19 dan juga alasan keamanan menyusul kerusuhan pendukung Trump di Gedung Capitol pada 6 Januari lalu. (ant/dil/jpnn)

Sumber Antara

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...