Pulang Kunjungan dari Prancis, Dirjen Perikanan Tangkap Ingin Terapkan Pelabuhan Berwawasan Lingkungan

"Mereka tingkat kesadaran sangat tinggi, mereka taat pada peraturan di sana. Di sana mereka menangkap sudah sesuai ukuran ikan. Jadi kalau yang tidak sesuai ikannya dibuang. Tapi dibuang itu juga dicatat, karena tidak bisa diperjualbelikan tetap dicatat kemudian dihitung untuk mengurangi potensi," urai Zaini.
Dengan sistem tersebut, kata Zaini, ikan yang tidak sesuai ukuran itu dibuang dan tidak merusak lingkungan. Mereka beralasan ikan yang dibuang dapat menjadi makanan bagi ikan-ikan lain.
Zaini juga berdiskusi tentang alat tangkap ikan yang digunakan di sana terus berkembang. Adapun tiga alat tangkap yang paling banyak digunakan di sana yakni pukat (troll), purse seine, dan gillnet.
"Sebagai perbandingan, sistem yang mereka (Prancis) bangun itu juga tidak sebentar. Bahkan mereka membutuhkan waktu 15 tahun untuk benar-benar siap dan sampai pada tahap yang modern seperti saat ini," serunya.(chi/jpnn)
KKP telah membuat program pengelolaan perikanan yang mengutamakan ekologi dan keberlangsungan ekosistem.
Redaktur & Reporter : Yessy Artada
- KKP Gerak Cepat Tangani Paus Terdampar di NTT
- Pelindo Siapkan Solusi Jangka Panjang Agar Macet Horor di Tanjung Priok Tak Terulang
- KSPSI Dorong Indonesia Meratifikasi Konvensi ILO 188 untuk Perlindungan Awak Kapal Perikanan
- Kemacetan Panjang di Pelabuhan Tj Priok, Ketum INSA Bilang Begini
- Soal Macet Horor di Tanjung Priok, Gubernur Pramono: Ini Membuat Saya Resah
- Pelindo Batasi Kontainer yang Masuk ke Pelabuhan Tanjung Priok