Qatar dan Perang Peradaban

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Qatar dan Perang Peradaban
Stadion Al Bayt, tempat laga pembuka Piala Dunia 2022 digelar. Foto: qatar2022

jpnn.com - Sepak bola bukan sekadar olahraga.

Rumitnya globalisasi dunia bisa dijelaskan melalui sepak bola, dan sengkarutnya persaingan peradaban juga bisa tergambarkan melalui sepak bola.

Itulah yang terlihat pada Piala Dunia di Qatar tahun ini. Fenomena globalisasi dan perang peradaban terhampar pada perhelatan sepak bola dunia terbesar ini.

Franklin Foer menulis  buku "How Soccer Explain The World: The Unlikely Theory Of Globalization" (2004).

Dia mengungkap bagaimana sepak bola sudah menjadi industri tempat persaingan dan peperangan bisnis, politik, dan bahkan agama.

Foer mengungkap rivalitas di luar nalar yang tercipta antara dua tim Skotlandia, Glasgow Celtic dan Rangers.

Pertandingan "Old Firm Derby" antara kedua tim selalu mencekam karema ancaman kekerasan hooligan garis keras kedua tim.

Bukan cuma adu kuat di atas lapangan, Celtic dan Rangers merupakan representasi konflik sektarian berkepanjangan yang banyak memakan korban.

Orang boleh meragukan tesis perang peradaban Huntington. Akan tetapi, Piala Dunia kali ini menjadi bukti bahwa perang antarperadaban memang ada.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News