Radikal Shofa

Oleh: Dahlan Iskan

Radikal Shofa
Dahlan Iskan (Disway). Foto: Ricardo/JPNN.com

Dengan demikian mereka tidak mudah lagi menafsirkan Quran sesuai dengan pikirannya. Terserah mereka mau menafsirkan apa saja asal sudah tahu syaratnya. Dengan demikian mereka tidak mudah disodori tafsir tertentu.

Kini kajian ushul fikih itu dilakukan secara online. "Mereka tertarik. Ternyata mereka tidak pernah belajar ilmu ushul fikih," ujar ujar Shofa.

Shofa sudah menulis banyak buku. Tapi ia lagi menyiapkan satu buku lagi. Tebal. Penting. 700 halaman lebih. Ia buat buku terbarunya itu nanti sebagai monumen hidupnya. Itu akan menjadi karya ''master peace'' dalam hidupnya. Ia sudah punya judulnya: Risalah Jihadis.

Belakangan Shofa mulai aktif di NU wilayah DKI Jakarta. Ia jadi pengurus lembaga bahtsul masail. Yakni forum yang membicarakan posisi kasus-kasus masa kini dalam hukum Islam.

Para mantan teroris itu umumnya bukan dari NU. Sejauh ini tidak ada yang menolak Shofa.

Memang Shofa tidak dipanggil ustaz seperti kebiasaan mereka memanggil ustaz mereka. Tapi itu bukan pertanda penolakan. Justru Shofa sendiri yang jadi terbiasa memanggil mereka sebagai ikhwan dan antum (kamu).

Shofa juga terbiasa menyebut dirinya sendiri dengan panggilan ana (saya). Itulah istilah-istilah yang selalu digunakan di antara para penganut wahabi.

"Saya yang akhirnya justru terbiasa menggunakan istilah mereka itu. Nggak masalah. Bisa akrab," ujarnya.

Kini Shofa punya kegiatan mulia: bersahabat dengan mantan teroris. Bukan hanya bersahabat. Ia punya program bersama. Namanya: Rudalku.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News