Rahmat Shah, Dengan Kocek Sendiri Bikin Museum Satwa Liar Terbesar di Asia
Tiap Bulan Nombok Puluhan Juta Rupiah
Rabu, 23 Maret 2011 – 08:08 WIB

Rahmat Syah dan koleksi satwanya. Foto : Dokumen Pribadi
Kecintaan Rahmat terhadap binatang sebenarnya tampak sejak kecil. Lahir dari keluarga sederhana pasangan Hafiz H. Gulrang Shah (asal Pakistan) dan Syarifah Sobat (Medan), anak keenam di antara enam belas bersaudara itu sudah menunjukkan perbedaan dibanding saudara-saudaranya.
Tumbuh di sebuah desa di pinggir hutan dekat kota kecil Perdagangan, Simalungun, kesenangan Rahmat terhadap hewan langka dan berbisa telah tampak. Pernah suatu hari Rahmat kecil mendapat seekor kelabang besar yang tentu juga sangat berbisa. Warnanya merah tua.
Tidak hanya diajak bermain bersama, kelabang berbisa itu juga sempat dibawa ke mana-mana. Rahmat hanya memasukkannya di saku bajunya. Tapi, karena ketahuan salah seorang pembantunya yang takut, kelabang tersebut lantas dibunuh. "Saya menangis sejadi-jadinya. Berhari-hari saya masih sedih campur marah karena merasa kelabang itu hanyalah binatang lemah yang seharusnya tidak boleh dibunuh," kenangnya lantas terenyum.
Kecintaannya terhadap binatang itu tetap terpelihara hingga saat ini. Tidak hanya mendirikan museum, Rahmat juga memutuskan untuk mengambil alih pengelolaan Kebun Binatang Siantar yang sebelumnya dikelola pemerintah daerah setempat sejak 1 September 1996. "Alhamdulillah, dari sebelumnya terjelek, kini sudah menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia," tegasnya.
Saking cintanya kepada dunia binatang, Rahmat Shah rela mengeluarkan uang hingga miliaran rupiah untuk membangun museum dan galeri satwa liar. Koleksinya
BERITA TERKAIT
- Semana Santa: Syahdu dan Sakral Prosesi Laut Menghantar Tuan Meninu
- Inilah Rangkaian Prosesi Paskah Semana Santa di Kota Reinha Rosari, Larantuka
- Semarak Prosesi Paskah Semana Santa di Kota Reinha Rosari, Larantuka
- Sang Puspa Dunia Hiburan, Diusir saat Demam Malaria, Senantiasa Dekat Penguasa Istana
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu