Rakyat Myanmar Turun ke Jalan, Para Biksu Berjajar di Garis Depan

Rakyat Myanmar Turun ke Jalan, Para Biksu Berjajar di Garis Depan
Pengunjuk rasa menggelar aksi protes terhadap kudeta militer di Kota Yangon, Myanmar, Sabtu (6/2/2021). Mereka menuntut pembebasan pemimpin terpilih Myanmar Aung San Suu Kyi. Foto: ANTARA/REUTERS/Stringer/wsj

jpnn.com, YANGON - Ratusan pengunjuk rasa anti-kudeta berbaris di kota terbesar Myanmar, Yangon, pada hari ketiga demonstrasi di jalanan, Senin (8/2).

Demonstrasi itu menentang kudeta yang dilakukan militer Myanmar dan penangkapan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi.

Sekelompok biksu berjubah warna kunyit berbaris di barisan depan aksi protes bersama para pekerja dan mahasiswa.

Mereka mengibarkan bendera Buddha warna-warni di samping spanduk merah dengan warna Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), partai yang dipimpin Suu Kyi.

"Bebaskan Pemimpin Kami, Hormati Suara Kami, Tolak Kudeta Militer," demikian tulisan pada salah satu spanduk aksi protes itu. Banyak pengunjuk rasa mengenakan pakaian hitam.

Para penentang kudeta Myanmar menyerukan lebih banyak aksi protes dan penghentian pekerjaan pada Senin setelah puluhan ribu orang bergabung dalam demonstrasi pada akhir pekan.

Protes yang melanda Myanmar pada Minggu (7/2) adalah yang terbesar sejak Revolusi Saffron 2007 yang dipimpin oleh para biksu Buddha yang membantu mendorong reformasi demokrasi yang terhambat oleh kudeta oleh militer pada 1 Februari lalu. (ant/dil/jpnn)

Desakan rakyat agar militer Myanmar mengembalikan kekuasaan kepada para pemimpin sipil kian besar, bahkan para biksu pun ikut turun ke jalan


Redaktur & Reporter : Adil

Sumber Antara

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News