Revolusi Energi (2)

Oleh Dahlan Iskan

Revolusi Energi (2)
Dahlan Iskan. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - Asumsi besar saya ialah:

1. Minyak mentah tidak penting lagi. Gas bumi memang masih penting, tetapi tidak sepenting dulu lagi. (Ditjen Migas mungkin sudah waktunya dihapus –atau hanya jadi direktorat. Satu-satunya yang masih membuat Ditjen itu dipertahankan adalah: masih banyak Ditjen lain yang mestinya lebih dulu tidak ada).

2. Kita tidak bisa bersandar ke gas bumi. Sumur gas lama sudah waktunya menipis dan habis. Juga sudah terikat kontrak lama.

Sumur yang baru yang besar tidak bisa diharap. Proyek Masela yang sudah hampir mulai diubah pada awal periode pertama Presiden Jokowi –dan sampai sekarang belum terlihat akan dimulai.

Sumur Natuna kian jauh dari mata. Letaknya di laut dalam. Kandungan sulfurnya terlalu tinggi.

3. Batu bara akan kian dikecam di seluruh dunia. Kebutuhan batu bara tetap tinggi, tetapi tidak akan naik lagi. Batu bara akan terus dipersoalkan sebagai energi kotor.

Baca Juga:

4. Pabrik boiler dan turbin akan banyak ditutup. Terutama untuk ukuran 300 MW ke bawah. (Yang ukuran 600 MW dan 1.000 MW mungkin ada yang bertahan. Khususnya untuk pembangkit tenaga nuklir. Yang ukurannya selalu besar. Indonesia perlu mengamankan kebutuhan boiler dan turbin kecil. Terutama untuk pengganti yang ada dan perawatannya).

5. Pembangkit tenaga surya (dan tenaga angin) akan menemukan puncak kejayaannya. Belum dalam jangka pendek.

Pemerintah Indonesia sekarang ini punya nyali yang sangat besar. Pemerintah berani melawan apa pun –syukur-syukur tidak hanya berani melawan HTI, FPI, dan yang satu itu.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News