JPNN.com

Revolusi Mental di Balik Tanaman Sorgum

Minggu, 05 Agustus 2018 – 22:47 WIB Revolusi Mental di Balik Tanaman Sorgum - JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - “Kita tidak bisa menunggu orang lain merubah diri kita tetapi perubahan harus kita mulai dari diri sendiri sehingga Indonesia dapat menjadi negara yang terdepan.”

Begitulah semangat revolusi mental yang muncul dari Maria Loretha, seorang penggagas, pembenih dan juga pendamping petani penanam sorgum asal Pulau Adonara Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tidak semua orang mengenal sorgum. Komoditas ini nyaris terlupakan, namun dengan tangan dingin Mama Loretha, sapaan akrabnya, sorgum berkembang dari komoditas yang tidak dipandang menjadi komoditas terpandang, setidaknya di provinsinya, NTT.

Sebagai seorang perempuan yang berkutat dengan pemberdayaan sorgum, revolusi mental dapat terjadi ketika orang mau beralih dari nasi menjadi sorgum dan kemudian sorgum berkembang menjadi makanan pokok.

“Saya sering mendengar dari teman-teman yang berasal dari Eropa. Mereka bahkan telah menjadikan sorgum sebagai makanan pokok dan dengan beralih ke sorgum maka menurut saya inilah revolusi mental” jelasnya ketika di wawancara dalam acara Curah Pendapat Implementasi Revolusi Mental yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) di Grand Mercure Hotel Jakarta.

Lahan sorgum saat ini berkembang menjadi sumber pangan dan sekaligus sebagai sumber pendapatan ekonomi bagi masyarakat.

“Lahan-lahan tidur yang selama ini tidak diberdayakan, sekarang berkembang menjadi lahan produktif dan menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat” ungkap Mama Loretha antusias.

Jatuh-bangun mengembangkan sorgum sudah dirasakan oleh Mama Loretha. Bahkan saking kuatnya komitmennya dalam mengembangkan sorgum, mata dan telingnya sudah kebal akan komentar negatif.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...