Rocky Gerung, dari Ucapan Dungu ke Bajingan Tolol

Rocky Gerung, dari Ucapan Dungu ke Bajingan Tolol
Ahli filsafat Rocky Gerung saat menjadi pembicara dalam Diskusi Dialog Kebangsaan bertema Peran DPD RI dalam Percaturan Pemimpin Bangsa di Lobi Gedung DPD, Jakarta, Kamis (7/7). Foto: arsip JPNN.com/Ricardo

Beberapa waktu yang lalu 100 tokoh oposisi menandatangani petisi mendesak DPR-MPR melakukan sidang umum guna memakzulkan Presiden Jokowi. Mereka menyebut tuntutan itu  sebagai Petisi 100, sebuah nama yang diadopsi dari Petisi 50 pada era Orde Baru.

Ketika itu 50 orang tokoh oposisi mengirim surat kepada DPR dan menuntut supaya Presiden Soeharto dimintai pertanggungjawaban atas berbagai penyelwengan kebijakan yang dilakukannya.

Alih-alih memperoleh hasil, para penandatangan petisi malah diisolasi dan dipersekusi. Akses sosial, politik, dan ekonomi mereka diputus, dan mereka dicekal tidak boleh bepergian ke luar negeri. Walhasil Petisi 50 gagal meloloskan targetnya.

Kali ini Petisi 100 diperkirakan tidak akan membawa hasil kongkret. Komposisi keanggotaan DPR-MPR yang dikuasai kekuatan rezim tidak memungkinkan terjadinya pemakzulan.

Para penandatangan Petisi 100 pun tidak dipersekusi langsung oleh kekuasaan, tetapi di antara mereka sudah banyak yang masuk dalam daftar merah.

Situasi makin panas karena Denny Indrayana rajin berkicau meminta DPR untuk memakzulkan Jokowi. Paduan semua unsur ini menjadi pertimbangan tersendiri bagi polisi sebelum memutuskan untuk menangani laporan terhadap Rocky Gerung. 

Kalau salah langkah, bisa-bisa malah membuat bubrah, karena sama saja dengan menyiram bensin ke rumput kering yang mudah dibakar.(***)

Simak! Video Pilihan Redaksi:


Rocky Gerung terlihat emosional ketika mengritik Presiden Jokowi yang disebutnya lebih sibuk memikirkan diri sendiri ketimbang memikirkan rakyat.

Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News