Ruang Gerak Radikalisme dan Terorisme di Indonesia Sudah Menciut

Ruang Gerak Radikalisme dan Terorisme di Indonesia Sudah Menciut
Bendera ISIS, simbol radikalisme dan ekstremisme di era moderen ini. Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

“Hukum mencari pasti mendapatkan. Jadi kalau seseorang mencari hukum yang membenarkan radikalisme-terorisme dalam hutan informasi di dunia maya, yang bersangkutan pasti memperolehnya,” imbuh Imron.

Kendati begitu, kini makin banyak tokoh utama motor radikalisme-terorisme yang telah tewas dinegasikan oleh negara-negara maju, utamanya Amerika Serikat. Hal ini, kata Imron, berimplikasi terhadap mengeclnya aksi radikalisme-terorisme.

“Kita harus memerangi kebodohan dan kemiskinan agar memutus gerakan radikalisme-terorisme, sehingga menyadarkan masyarakat bahwa sebetulnya gerakan sempalan tersebut tidak relevan dengan tujuan berdirinya NKRI,” papar Imron.

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti menyampaikan, radikalisme-terorisme juga harus dicermati dari fenomena tindakan separatis, seperti kelompok bersenjata di Papua.

“Kalau dilihat dari unsur hukum, mereka (kelompok bersenjata Papua) juga sama dengan radikalisme dan terorisme. Mereka menggunakan kekerasan senjata, melawan hukum, dan menganggu ketertiban umum, keamanan, dan mengancam keutuhan wilayah NKRI. Jadi ini juga harus disadari sebagai bagian dari radikalisme dan terorisme,” kata Mu'ti.

Direktur Moya Institute Hery Sucipto menyebutkan, ancaman radikalisme - terorisme tidak akan pernah hilang seiring dinamika politik global. Fakta-fakta kemunculan radikalisme-terorisme tetap harus mendapat perhatian khusus untuk ditumpas tuntas. (dil/jpnn)

Akar pohon radikalisme yang melahirkan ranting terorisme di Indonesia kini sudah semakin menciut.


Redaktur & Reporter : M. Adil Syarif

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News