JPNN.com

Sakit Asam Urat Boleh Konsumsi Keju?

Jumat, 24 Mei 2019 – 23:51 WIB Sakit Asam Urat Boleh Konsumsi Keju? - JPNN.com

jpnn.com - Bagi Anda yang sudah terdiagnosis memiliki asam urat, pengaturan makanan sangat dibutuhkan untuk menurunkan kadar asam urat sekaligus tingkat kekambuhannya. Asam urat merupakan hasil akhir dari metabolisme purin. Sehingga, bagi penderita asam urat, makanan yang tinggi purin sebisa mungkin harus dihindari, seperti jeroan, daging sapi dan kambing, ikan tuna dan sarden, dan lain-lain. Lantas, bagaimana dengan keju, apakah boleh dikonsumsi?

Perlu diketahui, jika jumlah asam urat berlebih, dr. Andika Widyatama dari KlikDokter mengatakan, kelebihannya tersebut bisa menumpuk di dalam jaringan tubuh dalam bentuk kristal monosodium urat (kristal asam urat).

“Pada tahap awal, biasanya tak menimbulkan gejala, hingga akhirnya terjadi penumpukan kristal di berbagai organ, apalagi jika tidak diobati dengan tepat,” katanya.

Kristal asam urat yang akan menumpuk di dalam tubuh dan menyebabkan gangguan peradangan pada area persendian. Semua sendi di tubuh bisa terdampak, tapi biasanya yang paling sering terserang adalah sendi jari tangan, jari kaki, lutut, dan pergelangan kaki.

Jauhi makanan yang kandungan purinnya tinggi

"Selain diproduksi secara alami dalam tubuh, purin juga dapat berasal dari makanan yang Anda konsumsi. Dengan demikian, sangat penting bagi seseorang yang mengalami hiperurisemia atau asam urat untuk menghindari beberapa makanan yang dapat memperparah kondisinya," ujar dr. Andika.

Makanan yang biasanya membuat asam urat kambuh adalah jeroan, seperti otak, hati, paru, jantung, atau organ dalam lainnya. Jeroan diketahui memiliki kadar purin sangat tinggi, yaitu sekitar 100-1.000 mg per 100 gram. Selain jeroan, beberapa jenis makanan laut seperti ikan sarden, kerang, udang, serta daging sapi dan kambing juga tinggi purin.

Penderita asam urat pun juga harus menghindari makanan yang kadar lemaknya tinggi. “Penderita harus membatasi asupan makanan tinggi lemak yang dapat menghambat proses pengeluaran asam urat atau ginjal,” jelas dr. Andika.

Sumber klikdokter

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...