Sedih...Rini yang Manja Itu Telah Tiada, Jasadnya Harus Dibakar

Sedih...Rini yang Manja Itu Telah Tiada, Jasadnya Harus Dibakar
Mahfud Handoko, pawang bermain dengan gajahnya di Taman Nasional Way Kambas, Lampung, Rabu (07/01/2016). Foto: Imam Husein/Jawa Pos

TNWK merupakan gerbang konservasi gajah di Indonesia. Luas area khusus kandang gajah mencapai 4 hektare. Terbagi dua, kandang anakan dan gajah dewasa yang dipisahkan oleh aliran sungai. 

Tak ada jeruji besi. Hanya ada tanah lapang dengan patok besi untuk menyangkutkan rantai. 

”Setiap gajah satu patok. Tidak ada ukuran tertentu,” kata Mahfud.

Setiap pagi seluruh gajah membersihkan tubuh layaknya manusia bersama pawang masing-masing. Satu per satu pawang bergilir mendatangi kandang, melepaskan rantai, dan membawa asuhan masing-masing ke bak minum yang berukuran sekitar 4x5 meter. 

Berkeliling sebentar, kemudian gajah diajak mandi di kolam yang mirip danau mini. Kamis pagi tiga pekan lalu (7/1), bersama dengan para pawang lain, dengan penuh kasih sayang Mahfud membawa mereka menyelam ke kolam hingga hanya terlihat setengah kepalanya. 

Dengan tepukan tangan di atas kepala dan bahasa gumaman, para gajah itu manut. Sesekali air pun disemburkan oleh belalainya. Saat gajah menunduk, Mahfud menggosok punggung, dari satu gajah ke gajah lain secara bergilir. 

Tak lebih dari sepuluh menit, kaki-kaki raksasa tersebut melangkah keluar dari sungai. Segar. Mereka pun siap digembalakan. ”Bagi kami, menjadi pawang adalah panggilan hidup. Siapa lagi kalau bukan kita yang menjaga mereka,” ungkapnya. 

Sebagaimana relasi sesama manusia, kesehatian para pawang dengan gajah tentu saja tidak datang dengan tiba-tiba. Bahkan, datangnya juga tidak mudah. Awalnya, mereka mesti jadi helper (semacam asisten pawang) dulu. 

BAGI pawang baru, setidaknya butuh waktu tiga bulan untuk bisa memahami secara benar karakter gajah . Pada hari-hari pertama, pasti mengalami ditendang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News