Sejarah Monumen Soekarno di Pusat Kota Jepang

Sejarah Monumen Soekarno di Pusat Kota Jepang
Sepucuk kertas yang diserahkan Bung Karno kepada Shigetada Nishijima, mantan tangan kanan Laksamana Maeda, pada 15 Februari 1958. Foto: Wenri Wanhar/JPNN.com.

jpnn.com - DI Jepang ada menara tinggi menyerupai Eiffel. Dinamakan Tokyo Tower. Simbolisasi semacam Monas di Jakarta. Di kawasan ini berdiri sebuah kuil kuno Seisho Ji. Di pekarangan Seisho JI ada Soekarno Hi. Hi dalam bahasa Jepang berarti Monumen.

Pada dinding monumen batu itu terukir kata-kata dalam dua aksara, latin dan kanji. Berbahasa Indonesia dan bahasa Jepang. 

Surat Soekarno  

Sebulan setelah hubungan diplomatik Indonesia-Jepang resmi dibuka, Februari 1958 Presiden Soekarno bertandang ke Jepang.

Meski bukan resmi kunjungan kenegaraan, begitu mengetahui kedatangan Bung Karno, Kaisar Hirohito mengundang Si Bung ke kediamannya, 3 Februari 1958. Perjamuan makan pun siang dihidang. 

Pada 15 Februari 1958, proklamator kemerdekaan Indonesia jumpa Shigetada Nishijima, tangan kanan Laksamana Maeda semasa pendudukan Jepang di Indonesia. 

"Nishijima kawan lama Bung Karno. Ia fasih berbahasa Indonesia. Dan berjasa mengatur perumusan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia di rumah Maeda," tulis buku Jejak Intel Jepang

Dua sekondan itu bernostalgia. Di puncak senda gurau melepas rindu, Bung Karno menyelipkan sepucuk surat ke genggaman Nishijima. Begini isinya:

DI Jepang ada menara tinggi menyerupai Eiffel. Dinamakan Tokyo Tower. Simbolisasi semacam Monas di Jakarta. Di kawasan ini berdiri sebuah

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News