JPNN.com

Senangnya Bu Guru Santi dan Maria Ngobrol Bareng Mendikbud Nadiem

Selasa, 26 Mei 2020 – 23:11 WIB Senangnya Bu Guru Santi dan Maria Ngobrol Bareng Mendikbud Nadiem - JPNN.com
Mendikbud Nadiem Makarim saat ngobrol bareng Ibu Guru Santi (kiri bawah) dan Ibu Guru Maria. Foto: Mesya/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Dua orang guru yakni Maria asal NTT dan Santi asal Jawa Timur berhasil memenangkan sayembara menulis surat untuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim. Sebagai hadiahnya, keduanya bisa ngobrol bareng Mendikbud Nadiem. 

Nadiem mengungkapkan, begitu banyak hikmah yang bisa diambil dari masa krisis Covid-19.

“Jangan sampai kita keluar dari krisis ini tanpa membawa bekal dan hikmah. Kesulitan adalah akar pembelajaran yang penting,” ucapnya haru ketika mengomentari surat paling inspiratif melalui kanal Youtube Kemendikbud di Jakarta, Selasa (26/5).

Melalui acara Cerita Inspiratif Guru dan Murid bersama Mendikbud Nadiem Makarim, mantan Bos GoJek ini menyampaikan rasa bangga kepada seluruh tenaga pendidik yang tetap bersemangat menjalankan roda pendidikan di tengah pandemi. 

“Ini adalah saat pembelajaran bagi kita semua,” ujarnya. 

Dua guru yang suratnya terpilih mengutarakan rasa senangnya karena tidak menyangka surat mereka akan dibacakan sekaligus dapat berbincang langsung dengan Mas Menteri. 

“Saya senang karena bisa bicara langsung dengan Mas Menteri,” ujar Maria, Guru Sekolah Dasar Katolik (SDK) Kaenbaun, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur.

Ia bercerita bahwa kondisi wilayah yang berada di pedalaman serta sarana pembelajaran yang minim membuatnya harus melakukan kunjungan ke rumah-rumah agar para siswa tetap mendapatkan pembelajaran.

“Jaringan internet dan siaran televisi di wilayah kami sulit dijangkau, orang tua siswa juga kebanyakan tidak memiliki HP android sehingga saya rutin mengunjungi siswa secara bergiliran,” tutur Maria yang menggunakan motor untuk berkunjung ke rumah siswanya.

Setiap hari, Maria mengunjungi lima rumah dan memberikan tugas kepada anak didiknya. Mereka tetap bersemangat menjalankan tugasnya. 

"Sambil berkunjung, saya ingatkan anak-anak untuk menjaga kebersihan cuci tangan dan memakai masker jika hendak keluar rumah,” Maria melanjutkan. 

Oleh karena itu, Maria sangat berharap pemerintah dapat memberikan perhatian kepada sekolahnya agar kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan.

Pada masa sekarang ini, orang tua berupaya mendukung pembelajaran. Namun karena keterbatasan ekonomi, orang tua tidak punya HP android sehingga susah dalam komunikasi. 

"Mohon perhatikan sekolah saya, fasilitasnya agar diperhatikan,” harap Maria.

Kondisi lebih beruntung dirasakan oleh guru lain yaitu Santi. Seorang guru Bahasa Inggris di SMP Islam Baitul Izzah Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Ia mengatakan, wilayah dan fasilitas pembelajaran lebih mudah diakses, namun tantangan justru datang dari budaya pembelajaran.

“Biasanya guru mengajar hanya berpedoman pada buku pegangan guru, namun sekarang kita ‘dipaksa’ belajar memanfaatkan teknologi untuk melakukan pembelajaran secara dalam jaringan (daring),” ungkap Santi. 

Santi mengaku senang dengan kebijakan Merdeka Belajar Kemendikbud. Ia mendukung perubahan di dunia pendidikan dalam menciptakan metode pembelajaran yang menarik untuk memotivasi siswa belaja.

“Saya bahagia sekali melihat teman sejawat mulai belajar sedikit demi sedikit tentang beberapa platform pembelajaran. Padahal biasanya mereka hanya berpegang pada buku pegangan guru saja. Saya dulu dianggap aneh di sekolah karena mengajarkan siswa-siswa bermain coding. Padahal saya guru bahasa Inggris atau mengajak mereka keliling dunia dengan Google Earth,” kata Santi.

Menurut Santi, pembelajaran jarak jauh memberi kesempatan kepada kita semua memupuk empati, quality time bersama keluarga dan mengasah sisi humanisme. Orang tua menjadi paham bagaimana sulitnya mengajar anak-anak. 

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...
fri