Setelah Dicoba Soimah

Oleh: Dahlan Iskan

Setelah Dicoba Soimah
Dahlan Iskan. Foto: disway.id

Padahal, bakcang itu aslinya untuk memperingati pengorbanan seorang menteri yang terusir –justru saking jujurnya. Namanya: Qu Yuan. Di tempat pembuangannya itu, Qu Yuan tetap populer. Tetap dianggap lambang kejujuran.

Suatu saat negara diserang musuh. Hancur. Qu Yuan sedih sekali. Ia bunuh diri. Dengan cara terjun ke sungai. Rakyat mencarinya. Tidak menemukannya. Agar Qu Yuan tidak dimakan ikan, rakyat ramai-ramai membungkus nasi. Diikat. Dilempar ke sungai itu. Juga agar Qu Yuan tetap hidup.

Waktu ingat peristiwa bakcang itulah, Harjanto mulai berpikir ”jalan makanan”. Bukan ketoprak.

Ia pun ingat: saat Imlek makan mi. Cap gomeh makan lontong. Hari raya Tang Cik makan ronde. Hari raya Congjiu makan kue bulan.

Ketemulah: rujak pare dan sambal kecombrang itu. Untuk korban kerusuhan Mei 1998.

Harjanto sendiri akrab dengan dua jenis bahan masakan itu. ”Mama saya sering bikin sambal yang diberi kecombrang,” ujar Harjanto. Tentu lebih sering lagi bikin sayur pare.

”Mungkin kelak, orang bisa juga makan rujak pare dan sambal kecombrang sambil ketawa-ketawa. Seperti makan Bakcang sekarang,” ujar Harjanto.

Namun, katanya, orang tetap bisa merasakan pahitnya pare. Pare (simbol kepahitan) dan bunga kecombrang (simbol wanita Tionghoa) itu harus diulek. Berarti ditindas, dihancurkan, dan dilumatkan. Oleh ulek-ulek.

Fatia memang tidak lagi takut apa pun. Ia akan terus memperjuangkan korban kekerasan Mei 98 dan kekerasan mana pun terhadap perempuan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News