Sistem Proporsional Tertutup Berpotensi Menguatkan Oligarki

Sistem Proporsional Tertutup Berpotensi Menguatkan Oligarki
Ilustrasi pemilihan umum atau Pemilu. lustrasi/foto: arsip JPNN.com/Ricardo

jpnn.com, BOGOR - Sistem proporsional tertutup dalam pelaksanaan Pemilu 2024 dinilai berpotensi menguatkan oligarki.

Pendapat itu disampaikan akademisi Universitas Djuanda Aep Saepudin Muhtar merespons adanya uji materi UU Pemilu di Mahkamah Konstitusi (MK).

"Sistem ini justru berpotensi abuse of power (penyalahgunaan kekuasaan) oleh elite partai," kata Gus Udin -sapaan Saepudin.

Hal itu disampaikannya saat menjadi pemateri seminar bertajuk "Transformasi Gerakan Mahasiswa Menuju Keemasan Indonesia Tahun 2045" di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (8/1).

Dia menilai sistem proporsional tertutup akan menyebabkan tidak maksimalnya calon legislatif (caleg) dalam melakukan kerja-kerja elektoral dalam meraup suara pada Pemilu 2024.

"Ini tentunya berimbas pada mesin partai yang hanya berjalan sendiri tanpa dorongan dan dukungan dari calon-calon yang memiliki elektabilitas tinggi di masyarakat," ujar Gus Udin dalam seminar yang digagas oleh Aliansi BEM Se-Bogor Barat itu.

Pada forum itu, Koordinator BEM Se-Bogor Barat M Aminnullah menolak sistem proporsional tertutup karena dapat mencederai nilai-nilai demokrasi.

"Karena bertentangan dengan Pasal 1 Ayat 2 tentang kedaulatan serta Pasal 22e tentang Pemilu," kata mahasiswa Institut Ummul Quro Al Islami itu.

Sistem proporsional tertutup dalam pemilu dinilai berpotensi menguatkan oligarki serta merampas kedaulatan rakyat dalam demokrasi.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News