Soesilo Toer si Doktor Pemulung Sampah, Mulai Takut Mati (6)

Soesilo Toer si Doktor Pemulung Sampah, Mulai Takut Mati (6)
Soesilo Toer (kiri) dan wartawan Radar Kudus Noor Syafaatul Udhma (tengah) ngobrol di depan rumah masa kecil Pramoedya Ananta Toer. Sedangkan istrinya Suratiyem memberi makan kambing. Foto: NOOR SYAFAATUL UDHMA/RADAR KUDUS

jpnn.com - Soesilo Toer, doktor ekonomi politik yang kini jadi pemulung sampah, pernah menikmati kemewahan di negeri orang. Kini, adik Pramoedya Ananta Tour itu harus hidup dengan kesederhanaan. Meski demikian dia bangga menjalani.

NOOR SYAFAATUL UDHMA, Blora

SPREI itu sudah usang. Motifnya tingggal lamat-lamat. Tak begitu kelihatan. Tetapi, pemiliknya, Soesilo Toer, membangga-banggakan. Itulah sprei paling istimewa yang ada di rumahnya. Dipergunakan untuk menghormati tamu yang menginap.

Wartawan Jawa Pos Radar Kudus ditawari untuk bermalam di rumah yang pernah ditinggali Pramoedya Ananta Toer itu. Soes -panggilannya- setengah memaksa. Dia telanjur mengganti sprei lengkap dengan sarung bantalnya.

Bukan sembarangan. ”Itu saya dapat dari tempat sampah juga. Hasil memulung,’’ ujarnya membuka rahasia.

Hasil memulungnya bukan hanya dijual. Tetapi juga dimanfaatkan untuk perlengkapan rumah tangga. Selain sprei, ada cangkir. Dia mengatakan cangkir itu sangat bagus (Betul-betul dengan menggunakan kata sangat).

Wartawan Jawa Pos Radar Kudus sempat berpikir mungkin cangkir kuno. Bahkan ingin membelinya. Soesilo mengambil cangkir itu dari tempat penyimpanan. Diperlihatkannya kepada wartawan Radar Kudus dengan menimang-nimang.

Ternyata cangkir kaca. Sudah bentet alias retak pula. Ada logo berbagai produk salah satu perusahaan minuman.

Soesilo Toer, doktor ekonomi politik adik Pramoedya Ananta Toer, yang saat ini menjadi pemulung sampah, pernah menikmati hidup mewah di negeri orang.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News