Solusi yang Ditawarkan Pakar dan Orangtua Agar Lebih Aman Menonton Pertandingan Sepak Bola di Indonesia

Nugroho menambahkan pakar psikologi massa atau lembaga terkait lainnya harus membantu menetapkan strategi untuk menangani perilaku penggemar.
"Dan yang terpenting, harus ada program seperti fans engagement FIFA... regulator dan operator juga harus kreatif, dan selalu melakukan inovasi kegiatan positif dan aman yang bisa menjadi penetrasi budaya baru bagi suporter," ujarnya.
Jadi takut bawa anak ke stadion
Saat pakar dan pemerintah sedang mencari pelajaran penting dari tragedi itu, sejumlah orangtua di Indonesia mulai ragu untuk membawa anak-anaknya ke pertandingan sepak bola.
Maulana adalah ayah dari dua orang anak berusia dua dan enam tahun yang sering ia ajak nonton pertandingan sepak bola.
Ia mengatakan masih belum bisa memutuskan bagaimana harus bersikap.
"Harusnya sih [pertandingan] aman untuk semua ya. Mereka sudah mengerti dan senang kalau mau nonton sepak bola, sudah menunggu-nunggu … dan ini menurut saya lebih dari sekedar hiburan," tuturnya, yang juga bagian dari Jakmania, pendukung kesebelasan Jakarta, Persija.
"Tapi melihat kejadian di Kanjuruhan seperti itu [banyak anak-anak yang tewas] saya jadi khawatir."
"Gimana ya, bingung juga."
Sejumlah orangtua di Indonesia percaya membangun mental suporter sepak bola bisa dimulai dari rumah
- Dunia Hari Ini: Israel Berlakukan Keadaan Darurat Akibat Kebakaran Hutan
- Dunia Hari Ini: Amerika Serikat Sepakat untuk Membangun Kembali Ukraina
- Dunia Hari Ini: Pakistan Tuding India Rencanakan Serangan Militer ke Negaranya
- Dunia Hari Ini: PM Terpilih Kanada Minta Waspadai Ancaman AS
- Dunia Hari Ini: Sebuah Mobil Tabrak Festival di Kanada, 11 Orang Tewas
- Dunia Hari Ini: Siswa SMA Prancis Ditangkap Setelah Menikam Teman Sekelasnya