Somasi ke Produsen Rokok Dinilai Tidak Tepat

Somasi ke Produsen Rokok Dinilai Tidak Tepat
Ilustrasi pekerja membuat rokok. Foto: Radar Bromo/JPNN

Karena itu, Enny meminta masalah somasi itu tidak digaungkan lagi.

Menurut dia, masih banyak masalah lain terkait isu tembakau yang lebih penting diperhatikan.

Di antaranya, berkenaan dengan pro dan kontra berkepanjangan terhadap RUU Pertembakauan yang sudah lama dibahas di DPR.

”Selama ini banyak orang memandang isu tembakau hanya dari satu sisi seperti aspek kesehatan saja. Padahal, ada aspek penerimaan negara dalam bentuk cukai, ada kepentingan industri, ada kepentingan petani tembakau, dan jutaan tenaga kerja yang juga harus diperhatikan,” tutur Enny.

Berdasar rilis yang dikeluarkan Indef akhir Februari lalu, sekarang ini ada kecenderungan melihat industri rokok dalam kaca mata hitam dan putih.

Kelompok yang kontra menganggap tembakau hanya akan merugikan kesehatan, bahkan merusak generasi masa depan.

Sementara itu, industri pasti berpikir memiliki hak hidup karena selama ini menyetor lebih dari Rp 139 triliun per tahun ke negara.

Di sisi lain, dengan penerimaan cukai sebesar itu, negara akan berpikir keras agar jangan sampai kehilangan pemasukan.

Enny Sri Hartati menilai somasi yang dilayangkan warga bernama Rohayani kepada PT Gudang Garam Tbk dan PT Djarum tidak tepat.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News