Stunt Fighter Community, Bukan Sekadar Pemeran Pengganti Biasa

Cari Bibit di Daerah, Buka Cabang sampai Filipina

Stunt Fighter Community, Bukan Sekadar Pemeran Pengganti Biasa
Stunt Fighter Community, Bukan Sekadar Pemeran Pengganti Biasa

Deswyn pun sudah sering melatih beberapa artis untuk workshop sebelum syuting film dimulai. Di antaranya, Adipati Dolken dan Edo Borne dalam film Sang Martir, Acha Septriasa di film Barakati yang baru saja selesai syuting sebulan lalu, dan artis Jepang yang membintangi Karate Girl, Rina Takeda.

Laki-laki yang berasal dari keluarga atlet karate itu mengatakan, SFC bukan sekadar komunitas untuk para stuntman dan stunt fighter. Mereka rutin berlatih setiap Senin dan Kamis dari pukul 20.00 hingga 23.00 WIB. Selain itu, Deswyn selalu mengusahakan para anak didiknya untuk mendapatkan peran jika dirasa kemampuan mereka sudah cukup untuk menjadi stunt.

Motivasi para anggota SFC beragam. Ada yang memang dari awal ingin menjadi aktor, ada yang bingung apa yang harus dilakukan dengan kemampuan bela dirinya, ada juga yang hanya ingin berlatih dan menambah pengalaman.

Kemampuan awal dari para anggota SFC juga beragam. Ada yang memang benar-benar tidak tahu bela diri, tapi juga banyak yang dasarnya seorang atlet, bahkan guru besar dari beberapa perguruan bela diri di daerah. Anggota SFC Jakarta juga tidak hanya berasal dari wilayah ibu kota. Banyak putra daerah yang memilih ikut Deswyn saat syuting di tempat tertentu. Misalnya, Surabaya, Madura, Jogja, dan Bogor.

Deswyn membatasi usia para anggota yang ingin bergabung dengan SFC. Minimal berusia 16 tahun dan maksimal 45 tahun. Dia tidak ingin membahayakan anggotanya hanya karena usia yang terlalu tua dan fisiknya kurang kuat. Apalagi, stuntman tidak bisa mendapatkan asuransi kesehatan layaknya aktor-aktor yang bermain dalam film.

"Menjadi stunt itu tidak bisa mendapatkan asuransi. Itu juga risikonya. Sebab, cedera kecil pasti ada lah. Itu yang akan saya usahakan ke depan untuk membuat sebuah asosiasi yang menaungi stunt di Indonesia," tutur Deswyn.

SFC Jakarta beranggota sekitar 30 orang. Beberapa di antaranya perempuan. Itu cukup mengherankan karena biasanya seorang perempuan takut jatuh dan lecet. Apalagi kekerasan. Namun, perempuan-perempuan yang ikut berlatih di SFC Jakarta itu justru terlihat sangat serius belajar koreografi pertarungan.

Alasan mereka untuk bergabung dengan SFC ternyata jauh dari kata uang. Namun, lebih pada sebuah eksistensi. Sebut saja Vivi yang ingin menjadi artis. Ina ingin menyalurkan hobi bela diri sejak kecil. Sementara itu, Citra hanya ingin mencoba hal-hal baru setelah merasa jenuh karena mendalami muscle art selama lima tahun.

Adegan kekerasan dalam film memerlukan orang lain sebagai pengganti. Tentu, bukan sembarang orang bisa menjadi pemeran pengganti atau stuntman. Nah,

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News